Jokowi, Prabowo dan AHY dalam Laga Rematch Pilpres 2019

Jokowi-Prabowo_m6hode

Sejak kemarin, pendaftaran pasangan calon Presiden resmi dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sampai pada tanggal 10 Agustus nanti. Berdasarkan fakta yang ada, sepertinya peta aktor yang akan berkontestasi tidak banyak berubah, kemungkinan besar hanya akan diikuti oleh dua calon Presiden yakni Joko Widodo vs Prabowo Subianto.

Peta koalisi partai juga tidak banyak perubahan, barisan partai pendukung pemerintahan yang dipimpin oleh PDIP dan diikuti oleh Golkar, PKB, PPP, Hanura, PSI dan Perindo masih terlihat bersama, demikian pula barisan oposisi yang dimotori oleh Gerindra yang kini telah bulat berkoalisi dengan Partai Demokrat.

Sementara itu, dua partai yang masih terlihat galau yakni PAN dan PKS belum menunjukan sikap akhir menyangkut arah dukungan dan sikap mereka pasca Demokrat bergabung dengan Gerindra, apalagi peluang dua parpol tersebut untuk menyandingkan kadernya bersama Prabowo peluangnya terlihat semakin mengecil.

Lantas, apa yang menarik untuk dibaca dari kondisi terkini jelang batas akhir pendaftaran calon Presiden? Apalagi, hampir pasti pertarungan calon Presiden 2019 adalah laga rematch dari Pilpres 2014 yang menyajikan dua kemungkinan figur dari dua poros calon presiden petahana dan penantang, yakni Jokowi atau Prabowo.

Tiga Hal Menarik Pilpres 2019

Prediksi-Pilpres-2019

Dalam pandangan saya, ada tiga hal yang menjadikan kemungkinan laga rematch Pilpres 2019 tetap menarik untuk diikuti. Pertama, siapa yang pada akhirnya akan menjadi pendamping Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Karena sampai hari ini, baik barisan petahana maupun penantang, sama-sama belum juga mengumumkan secara resmi siapa wakil masing-masing.

Kabar yang banyak beredar, Jokowi dan PDIP lebih senang memilih tokoh di luar pimpinan partai koalisi, dua nama yang beredar luas yakni Mahfud MD dan Moeldoko. Sementara di barisan oposisi terdengar kabar pasca berkoalisi dengan Demokrat, Prabowo santer diberitakan memilih Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai wakil. Serta alternatif lainnya adalah Salim Segaf Al Jufri pimpinan PKS dan dai kondang Abdul Somad yang merupakan rekomendasi hasil Ijtima sejumlah ulama.

Soal posisi wakil ini, nampaknya baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto sangat berhati-hati. Karena bisa jadi akan mempengaruhi peta dukungan koalisi. Karena itulah, mengapa akhirnya Jokowi maupun PDIP lebih senang memilih mereka yang berada di luar ketua umum partai koalisi daripada anggota koalisi yang bisa jadi akan membuat kecemburuan antar partai koalisi.

Demikian pula dengan posisi cawapres Prabowo antara mengikuti PKS dan barisan ulama 212 serta Partai Amanat Nasional atau cukup berkoalisi dengan Demokrat dan menjadikan AHY sebagai pendamping. Tentu bukan hal mudah bagi prabowo, karena hal ini terkait peta dukungan elektoral dan tentu saja berhubungan dengan kesiapan logisltik jelang Pilpres.

Kedua yang juga menarik dari laga Pilpres 2019 nanti, tentu saja bagaimana kemungkinan dari dua masing-masing calon baik petahana maupun penantang dalam memenangkan kontestasi pemilihan Presiden? Berdasarkan sejumlah hasil survei, posisi Joko widodo sebagai capres masih konsisten lebih unggul dibandingkan Prabowo Subianto.

Elektabilitas Presiden petahana masih diatas 50 % dibandingkan penantang yang masih berada pada kisaran 26 %. Namun yang perlu dicatat, posisi tersebut masih merupakan gambaran elektabilitas personal, belum merupakan gambaran elektabilitas pasangan paket calon presiden dan wakil presiden. Pada titik inilah, dinamika pasangan calon wakil presiden sangat menentukan daya tariknya bagi pemilih.

Jokowi sendiri tentu akan memilih wakilnya berdasarkan dua kata kunci utama, yakni sosok yang mampu menarik ceruk pemilih yang dekat dengan kalangan muslim dan memiliki popularitas yang baik dan dikenal bersih serta tegas untuk menutupi dua serangan isue yang senantiasa dilekatkan dengan Joko Widodo.

Sementara itu, Prabowo tentu berharap kriteria calon wakil presidennya adalah sosok yang punya popularitas, elektabilitas, dukungan parpol dan logistik yang cukup menyambut pertarungan pemilihan Presiden. Untuk bisa menyaingi posisi elektabilitas petahana, maka tidak salah jika pada akhirnya Prabowo akan lebih senang berpaket dengan AHY sebagai calon wakil presiden.

Ketiga, hal yang juga menarik untuk dicermati yakni hampir pasti laga ulang Pilpres 2019 akan kembali menyajikan arena politik segregasi. Di mana terbelahnya pemilih pada dua kubu antara pendukung Prabowo dan Joko Widodo akan kembali menonjol, sebagai konsekuensi gagalnya proses politik 5 tahun dalam menghadirkan figur-figur baru yang berani tampil dalam arena politik dan kepemimpinan nasional.

AHY

Terlepas dari berbagai hal, harus diakui baru Partai Demokrat dan AHY yang mampu menyegarkan panggung politik nasional dari pembicaraan politik yang didominasi oleh dua figur kalau bukan Jokowidodo pasti Prabowo Subiyanto. Sementara partai politik lain sibuk menjadi pendukung petahana atau memilih menjadi oposisi, tanpa mampu menghadirkan wajah baru dalam pentas politik nasional.

SBY dan AHY

622578_12533204082018_ahy

Sikap akhir Partai Demokrat yang memilih berkoalisi dengan Gerindra, tentu bukan tanpa perhitungan matang. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai mantan Presiden dua priode, sekaligus seorang jenderal ahli startegi tentu punya hitungan sendiri mengapa akhirnya memilih bergabung dengan barisan oposisi.

Pandangan saya, ada dua keuntungan yang bisa didapatkan oleh SBY dan Partai Demokrat dengan memilih bergabung dengan barisan oposisi, pertama limpahan suara electoral yang tidak puas dengan kinerja Presiden petahana tentu akan mengarah hanya pada dua kubu yakni jika bukan Gerindra tentu akan mengarah pada Demokrat.

Apalagi Pilpres dan pemilihan legislative nanti akan dilaksanakan secara bersamaan, tentu saja baik Demokrat maupun Gerindra sedikit banyaknya akan mendapatkan suara limpahan electoral jika akhirnya koalisi tersebut diikuti dengan koalisi pasangan Capres dan Cawapres.

Kedua, AHY adalah wajah baru dari figur politik nasional. Terlepas dari kelebihan dan kekuarangannya, kehadiran AHY dalam pentas politik nasional bisa menjadi penyegar di antara kuatnya tarikan dua kubu baik Jokowi maupun Prabowo, sekaligus merupakan investasi masa depan bagi kepemimpinan nasional yang didominasi oleh wajah-wajah lama.

Sesuatu yang tentu berarti bagi Indonesia pada masa akan datang, apalagi tepat 10 Agustus nanti AHY berusia genap 40 tahun usia yang sudah cukup matang bagi kepemimpinan politik masa akan datang yang akan menjadi representasi dari kebaruan tokoh politik nasional, ditengah laga ulang yang senantiasa menghadirkan tokoh yang itu-itu saja.

 

 

Satu tanggapan untuk “Jokowi, Prabowo dan AHY dalam Laga Rematch Pilpres 2019

  1. Pandangan yg menarik, Pak Rahmad. Masalahnya kalau AHY tidak berbenah pasca kekalahannya di Pilgub Jakarta, lama2 akan banyak figur2 muda lainnya yang bisa menyalip beliau…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s