Tiga Modal Caleg

aplikasi-dari-seni-perang-yang-dikemukakan-oleh-sun-tzu-part-1-J4JL0aC_1532334339-b

Seorang calon anggota legislatif setidaknya harus memiliki minimal tiga modal dasar untuk terpilih, demikian pengalaman dan kesimpulan saya selama ini ketika bergelut dan meneliti sejumlah arena pemilihan legislatif.

Tidak ada yang lebih baik dari SunTzu untuk menjelaskan dengan sederhana, soal tiga modal yang saya maksud. Seperti ungkapan Sun Tzu yang terkenal : “Kenali dirimu, kenali musuhmu, dan kenali medan tempurmu. Dan kau akan memenangi seribu pertempuran” (Sun Tzu).

Begitulah sebenarnya pertarungan pemilihan legislatif maupun arena kontestasi politik apapun bekerja, semuanya dimulai dari mengenali diri sendiri, siapa lawan, dan terakhir penguasaan atas medan pertempuran.

Kenali Diri

Sun-Tzu

Saya memiliki banyak teman yang punya niat dan gairah untuk ikut berkompetisi pada arena pemilihan legislatif tahun 2019 yang akan datang, baik pada level kabupaten/kota, provinsi, sampai ajang DPR RI. Biasanya, ketika mereka menyampaikan niatnya kepada saya, hal pertama yang saya tanyakan, apa alasan  ingin ikut dalam arena pemilihan legislatif?

Jawabannya bisa beragam, dari hal-hal yang ideal seperti ingin berbuat bagi daerah, nusa dan bangsa. Sekedar ikut-ikutan, sampai alasan yang cukup jujur, supaya punya pekerjaan tetap!

Mengapa hal ini penting untuk ditanyakan paling awal? Karena, motivasi setiap orang sangat menentukan totalitas cara mereka bekerja dan bertarung pada arena politik.

Jika alasan mereka sekedar ikut-ikutan, tentu motivasi yang mereka bangun tidak lebih sekedar ikut meramaikan, bukan untuk memenangkan kontestasi yang sedang mereka hadapi.

Jika selesai pada pertanyaan pertama,  biasanya saya melanjutkan dengan pertanyaan kedua yang berdasarkan pengalaman saya,  cukup sulit untuk dijawab oleh sejumlah sahabat saya yang bersemangat ikut ajang kontestasi legislatif maupun pilkada.

Pertanyaan yang cukup sederhana, apa alasan pemilih di dapil mereka harus mendukung dan memilih dirinya ?

Biasanya, banyak sahabat saya yang akhirnya gelagapan ketika pertanyaan ini saya ajukan kepada mereka. Percaya diri dan motivasi pribadi yang besar memang di haruskan, tapi hasrat pribadi yang besar untuk memenangkan suara rakyat pada ajang pemilu tidaklah cukup. Seorang kandidat calon anggota legislatif juga perlu bertanya secara jujur pada diri sendiri, mengapa para pemilih harus memilih mereka? Adakah kontribusi mereka selama ini kepada rakyat yang hendak mereka wakilkan? Berapa banyak jaringan keluarga dan relasi mereka selama ini yang pernah mereka bantu dan bekerjasama atau apa ide besar mereka yang bisa mereka tawarkan pada pemilih?

Terkadang, ketika masuk pada pertanyaan kedua ini, tidak sedikit sahabat saya yang akhirnya memilih menghentikan pembicaraan. Karena pada dasarnya, banyak dari para caleg yang ikut pada ajang pilkada tersebut tidak siap dan tidak mengenali potensi dan dirinya sendiri.

Siapa Lawan ? 

Mengenali lawan menjadi hal yang sangat penting dalam ajang kompetisi politik, seperti pemilihan legislatif maupun arena pilkada. Saya pernah berdiskusi dengan seorang juru bicara tim calon walikota. Ketika saya tanyakan kepada dirinya mengapa akhirnya mereka kalah padahal tanpa lawan dalam ajang kompetisi Pilwali, jawabannya cukup membuat saya tertawa.

“Kami ibarat dimasukkan ke dalam kamar gelap, disuruh menghajar siapa saja di kamar itu tanpa pengetahuan. Siapa sebenarnya mereka, lawan atau kawan”.

Pada soal kedua ini, untuk mengenali siapa lawan, dibutuhkan peta, data dan analisis yang terstruktur mengenai kekuatan yang sedang dihadapi. Karena dari sanalah strategi kemudian disusun, dibuat dan dikerjakan. Tanpa mengenali lawan kita dengan baik, sebenarnya kita sudah kalah satu langkah. Karena itu berarti, kita mengikhlaskan diri  memasuki hutan gelap tanpa mengetahui siapakah yang sedang kita hadapi, apakah tikus? Kecoa? Macan atau ular.

Karena setiap lawan perlu dihargai dan punya strategi sendiri untuk menghadapinya. Jangan sampai kita memberikan racun tikus kepada seekor macan atau membakar hutan hanya untuk membunuh seekor kecoa.

Kenali Medan Tempur

Saya pernah bertemu dengan seorang sahabat dari ibu kota, dirinya berniat untuk maju menjadi calon anggota legislatif DPR-RI dari sebuah provinsi di Sulawesi. Kawan saya itu, lulusan universitas di Amerika. Begitu bersemangat dia menjelaskan kepada saya, soal strategi yang akan dia pakai sesuai dari apa yang dilihat di luar negeri, saat Obama berkampanye.

Saya hanya tertawa ketika dia berpikir, seolah-olah pemilih yang sedang dia hadapi adalah pemilih Amerika. Kawan saya itu lupa setiap negara punya tipologi pemilihnya masing-masing, setiap daerah punya budaya politiknya sendiri-sendiri-sendiri.

Pengenalan teritorial medan tempur adalah hal yang tidak bisa ditawar. Mutlak harus  dimiliki oleh setiap caleg. Disinilah pentingnya melakukan riset, karena hasil riset menjadi penentu langkah apa yang akan diambil sesuai dengan konteks medan tempur yang dihadapi.

Jangan seperti kawan saya yang lulusan luar negeri itu, yang ingin menerapkan strategi kampanye media sosial, ala-ala Obama di daerah yang baru 30 persen terkoneksi jaringan internet. Tentu itu sebuah kesalahan fatal, karena tidak mengenali dengan baik arena tempurnya yang berujung pada kegagalan dalam pertarungan.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s