Ulama atau Pedagang Agama?

Religious.jpg

Siapakah yang pantas disebut ulama? Secara etimologi (bahasa) sepanjang yang saya ketahui, ulama berasal dari kata alim yakni orang yang ahli dalam ilmu agama. Karena keahlian tersebut, maka seorang ulama tugasnya membimbing dan mengayomi umat agar senantiasa berpegang pada petunjuk kitab suci dan selalu bersetia dengan perintah Allah.

Seorang ulama, bukanlah pedagang yang menjual agama. Seperti peringatan Allah ; wala- tasytaru bi ayati tsamanan qolilan wa iyyaya fattaqun; Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah. Dan hanya kepada Aku-lah kamu harus bertakwa (Al- baqarah 41).

Pesan ayat Al-quran ini sudah jelas, peringatan kepada mereka yang suka menjual ayat-ayat Allah. Apalagi jika kita membaca konteks kisah di balik turunnya ayat dalam surah Al-Baqarah 41 tersebut, merupakan ayat peringatan bagi para ulama Yahudi yang terbiasa mendapatkan upeti dari umatnya setiap kali membacakan taurat atau mengeluarkan fatwa bagi para pengikutnya.

Para pembesar Yahudi kala itu, khawatir jika Islam datang mereka tidak lagi akan mendapatkan sogokan dari umat dengan menjual ayat-ayat taurat dan fatwa-fatwa mereka. Padahal mereka sesungguhnya mengetahui, akan kemurnian ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tentang Islam sebagai agama untuk semua kalangan dari Bilal bin Rabah yang budak atau Abdul Rahman bin Auf yang kaya raya.

Merenungkan ayat dan konteks di balik turunnya peringatan Tuhan tersebut, lalu membacanya dengan situasi politik kekinian Indonesia, dimana status ulama telah berubah layaknya ‘komoditas politik’ atas nama pemegang suara umat, bagi saya adalah hal yang memuakkan. Apalagi, mencermati sejumlah atraksi dari mereka yang mengaku ulama yang dengan mudah mengeluarkan fatwa layaknya surat suci untuk sekedar dipertukarkan demi menjadi bagian dari kekuasaan politik, membuat saya yakin ayat dan konteks ayat tersebut, tepat untuk menjadi peringatan bagi mereka yang kini sedang mabuk dan birahi akan syahwat kekuasaan.

Karena bisa saja, mereka para ulama yang sedang sibuk menari-nari dalam tarikan politik jelang pemilihan Presiden kali ini tidak lebih baik dari para pendeta Yahudi yang diingatkan oleh Allah sesuai ayat dan konteks surah Al-Baqarah di atas.

Ulama atau Pedagang Agama ?

ulama-dulu-vs-ulama-sekarang-640x360.jpg

Seorang ulama akan diikuti oleh umat, selain karena memiliki keluasan akan pengetahuan agama juga karena mereka merupakan pewaris dari Nabi yang mulia. Saya teringat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah, ‘sesungguhnya qurra yang paling dibenci oleh Allah ialah yang mendatangi penguasa’.

Membaca hadis tersebut, aneh rasanya melihat perangai dan kesibukan para ulama-ulama negeri ini yang nampaknya lebih sibuk dari para politisi menjelang pemilihan Presiden tahun 2019 yang akan datang. Bukannya sibuk membina umat, mereka lebih sibuk berjualan status sebagai ulama, lalu mendatangi rumah calon Presiden jelang pembentukan koalisi parpol layaknya pengurus partai politik, berkumpul mengeluarkan fatwa, sampai berdagang akan jumlah pengikut mereka.

Rasanya, para ulama-ulama itu sedang kesetanan akan kekuasaan. Seolah-olah, mereka tidak percaya kekuasaan Allah bahwa setiap kejadian sudah ditetapkan takdirnya masing-masing, termasuk Allah sudah menetapkan siapa yang akan jadi Presiden tahun 2019 akan datang.

Kalaupun apa yang mereka lakukan, sebagai bagian dari ikhtiar untuk membawa aspirasi umat Islam, mengapa tidak mengundang kedua calon Presiden untuk duduk bersama dan menyampaikan apa yang menjadi harapan dan keinginan umat kepada masing-masing calon Presiden? Tanpa perlu membuat fatwa untuk memilih salah satunya. Karena kedua calon presiden yang ada, toh bagian dari umat Islam.

Kedua pasangan calon Presiden tersebut, dalam hemat saya juga tidak akan berani menghilangkan nilai-nilai Islam yang sudah berurat akar dalam nadi konstitusi republik ini. Bahkan telah dimasukkan menjadi bagian dari hukum resmi yang diakui oleh negara. Lantas, apalagi yang mesti diributkan? Jangan sampai semua soal dagangan kekuasaan?

Ulama, Pulanglah Membina Umat!

Sebagai seorang Muslim biasa yang jauh dari kata alim, terus terang saya bosan menyaksikan para ulama dan agama Islam yang mulia, sekedar dijadikan komoditas politik. Terseret dan terbawa dalam arus pertarungan kekuasaan dan hanya sekedar menjadi stempel atas nama, demi kalkulasi suara kemenangan calon Presiden.

Alangkah mulianya tugas para ulama, alangkah agungnya Agama yang kita punya, lantas mengapa hanya karena urusan kontestasi politik pemilihan Presiden, kita mesti sibuk saling serang hanya karena ego kebenaran masing-masing. Padahal, masing-masing dari kita tidak pernah tahu persis, mana yang benar-benar atau mana yang sekedar menjual stempel kebenaran. Karena apa yang kita lakukan, hanyalah upaya mendekati kebenaran.

Saya meyakini, sebuah pesan sederhana ‘jalan menuju Tuhan adalah sebanyak bilangan nafas ’, karena itu perbedaan sikap politik dari masing-masing umat islam adalah hal yang wajar. Biarlah umat melakukan ijtima masing-masing, siapa menurut mereka yang paling pantas menjadi Presiden dan wakil Presiden. Karena pada akhirnya, Tuhan sudah punya ketetapan akan garis tangan setiap mahluk, termasuk siapa Presiden dan Wakil Presiden indonesia dimasa akan datang.

Para ulama, pulanglah membina umat. Kembalilah ke surau-surau kita, pesantren-pesantren kita, mesjid dan sekolah-sekolah agama kita, jamaah sudah terlalu lama menanti dengan sepenuh rindu wajah teduh kalian, anak muridmu sudah terlalu lama menanti gurunya pulang. Karena kalian jauh lebih mulia, dibandingkan sekedar para politisi itu!

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s