Pilih Jokowi atau Prabowo?

Joko-Bowo

Percayalah, memilih pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden itu tidak akan lebih sulit dari memikirkan siapa calon pendamping hidupmu. Tekanan yang dihadapi, tidak akan lebih dahsyat dari uang bulanan bagi sekolah anak, cicilan rumah, bayar listrik, arisan istri, tagihan motor, belanja bahan bakar, sampai soal uang dapur, plus biaya ngopi atau beli rokok yang jadi kebutuhan pokok hidup kita sehari-hari.

Sulitnya menuju TPS, juga tidak sebanding dengan lelahnya mengurus surat kelakuan baik bagi calon PNS atau para pencari kerja yang mesti antri di kantor polisi, hanya karena selembar surat keterangan tidak memiliki catatan buruk selama hidup dan terdaftar sebagai warga negara baik-baik.

Teror siapa capres dan cawapres, juga tidak akan mengalahkan pedihnya masa orentasi sekolah ketika kakak senior membully sesuka hati. Apalagi melampaui saat zaman masuk kuliah, ketika pengkaderan mahasiswa baru berlangsung, tendangan dan tamparan tanpa alasan oleh senior, begitu sering melayang ke segala arah, memangsa kita sebagai mahasiswa baru.

Soal memilih siapa calon Presiden dan Wakil Presiden, juga tidak lebih horor menghadapi kejamnya pembimbing skirpsi yang sewenang-wenang. Tanpa hati nurani, mencoret bab-bab skripsi yang dikerjakan bermalam-malam dengan sepenuh jiwa raga bersama doa sang pacar yang tanpa henti; semoga kekasih hati cepat jadi sarjana, punya kerja dan akhirnya melamarnya.

Lalu oleh cerita hidup, kekasih yang ditemani selama masa kuliah dan waktu-waktu sulit ketika menulis skripsi, ternyata akhirnya menikah dengan teman kerja yang baru dikenalnya beberapa bulan. Percayalah, soal siapa yang mau jadi Presiden dan wakil Presiden, tidak ada apa-apanya dengan kenyataan perih itu.

Hidup ini sulit, sakit dan memang kejam beb!

Tapi dengan semua romantika kehidupan keseharian yang kita lewati, mestinya bukan menjadikan lantas bersikap apatis dengan dunia politik. Apalagi sampai bersikap masa bodoh atau memusuhi dan memandang semua hal yang berurusan dengan politik dan kekuasaan, tidak penting bagi hidup kita.

Ada sebuah ungkapan keren, ‘buta terburuk, adalah buta politik’. Kenapa? karena sadar atau tidak, percaya atau tidak, bahwa semua urusan keseharian kita, punya relasi dengan politik dan mereka yang menjadi pengambil kebijakan politik. Mulai dari menu di meja makan, kuota paket data handphone, sampai kebahagiaan rumah tangga, juga punya titik singgung dengan yang namanya urusan politik.

Sederhananya, ‘politik pasti berhubungan dengan hidup kita’ yang celakanya dalam konteks Pilpres, pilihannya masih itu-itu saja, kalau bukan Prabowo, ya Jokowi. Menjadikan menu pilihan politik yang disajikan oleh partai politik menjadi sedikit membosankan.

Kembali ke soal buta politik, saya sendiri, suka menggunakan istilah yang lebih mudah untuk menjelaskan soal relasi kehidupan individu dan politik, istilah yang saya sebutkan sebagai ‘politik keseharian’. Coba perhatikan, bagaimana politik memiliki relasi dengan urusan menu yang tersaji di meja makan kita. Seorang ibu, ketika menentukan menu makanan untuk keluarganya pasti akan menghitung penghasilan suami ataupun dirinya, nah soal penghasilan ini berhubungan dengan bagaimana situasi ekonomi negara. Sudah pasti, memiliki hubungan dengan kebijakan yang diambil oleh siapa pengelola negaranya.

Bahkan parahnya lagi, bagaimana kekuasaan politik bermain dalam urusan keharmonisan kehidupan rumah tangga, coba tengok data kementerian agama, apa faktor utama perceraian di Indonesia? Jawabanya, 70 % perceraian mayoritas karena urusan pendapatan, jadi kembali lagi soal siapa pengambil kebijakan negara dan bagaimana mereka merumuskan jalan kesejahteraan.

Karena itu, tidak sepenuhnya salah, jika setiap soal selalu dihubungkan dengan siapa yang jadi presiden. Sedikit banyak, pasti segala sesuatu memiliki relasi dengan para tuan-tuan yang berkuasa, karena setiap kebijakan seorang presiden, pasti punya konsekuensi mempengaruhi kehidupan warga negara.

Edward Norton Lorenz, sudah menjelaskan hal ini dengan baik tentang apa yang disebutkannya sebagai Butterfly effect. Bahwa kekacauan senantiasa berhubungan dengan kondisi awal, seperti  kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara brasil secara teori dapat menghasilkan tornado di texas, karena itu, diktum bahwa setiap satu kebijakan baru atau keadaan baru, akan melahirkan kekacauan atau pertentangan sulit untuk dibantah.

Apalagi saat ini, kita sedang berada pada masa menuju pergantian rezim baru. Tentu gejolak perbedaan akan muncul antara mereka yang ingin tetap Jokowi atau pilih Prabowo. Semuanya adalah hal yang wajar dan biasa saja. Tinggal memang, kadarnya tidak boleh berlebihan, apalagi sampai menjadikan Tuhan sebagai bahan jualan.

Biarlah urusan politik adalah urusan adu gagasan, apa yang akan dilakukan atau kebijakan apa yang akan dilahirkan untuk kebaikan bersama warga negara. Bukan soal kamu dan saya, apalagi sampai surga dan neraka, karena percayalah itu menyesatkan.

Tindakan kita, cukup seperti bait lagu dari band efek rumah kaca yang jadi idola saya, jatuh cinta itu biasa saja, harusnya antara pemilih Prabowo dan Jokowi itu juga biasa saja. Seperti istilah orang di kampung saya, biasa jo atau santai ma’ki pilpres ji ini…

Selamat hari libur…

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s