Heidegger

Hitler-and-Fritz-ThyssenMartin Heidegger, bukan nama biasa dalam panggung intelektual dunia. Dirinya adalah filsuf fenomenologi kenamaan, murid langsung dari bapak fenomenologi Edmund Husserl. Heidegger juga pernah menjadi rektor universitas Freiburg Jerman dan guru sekaligus kekasih, bagi filsuf politik Hannah Arendt.

Bagi mereka yang belajar Filsafat dan studi ilmu- sosial humaniora, Heidegger salah satu sosok filsuf yang pikiranya sangat berpengaruh pada abad ke-20. Pengaruh Heidegger, kini masih begitu terasa bagi kalangan dunia kampus. Setidaknya, berdasarkan pengalaman pribadi saya, begitu banyak kutipan tesis dan disertasi mahasiswa yang saya baca, masih mengutip Heidegger.

Entah mereka paham atau tidak, soal gagasan fenomenologi yang dibawa oleh  Husserl atau Heidegger? Saya, tidak tau pasti.  Namun, pada tulisan ini. Saya tidak hendak bercerita tentang studi fenomenologi Heidegger atau Husserl maupun gagasan-gagasan Heidegger tentang metafisika yang cukup rumit itu.

Saya ingin berbicara, soal kehidupan politik  filsuf seperti Heidegger ataupun Platon. Mereka yang memiliki pengetahuan yang mendalam, kedalaman teoritis,  namun ketika berhadapan dengan politik praktis dan kekuasaan, seolah  menjadikan mereka jauh dari nalar kritis yang mereka miliki.

Padahal sejarah mencatat, Heidegger dengan gagah berani pernah memberikan kuliah  kritik rasio murni bagi pikiraan sang guru besar logika dan metafisika, Immanuel Kant. Namun, sifat kritis Heidegger dalam ruang akademik itu tidak sejalan dengan sikapnya atas Hitler dan Nazi. Heidegger sendiri, tercatat sebagai anggota partai Nazi yang terkenal  sebagai partai yang fasis dan rasis itu.

Bahkan pada pidato pelantikan dirinya sebagai rektor 27 mei 1933 dengan sangat hiperbolik, Heidegger memuji-muji Hitler dan Nazi serta berpandangan bahwa Hitler dan Nazi adalah masa depan bagi bangsa Jerman bahkan dunia. Serta dengan nada yang sedikit‘memuakkan’ Heidegger mengiba kepada sang Fuhrer; ‘Hitler, dengarkanlah aku. Karena aku seorang filsuf maka aku paham situasi spiritual rakyat’(majalah basis edisi/07/2018)

Sikap bipolar yang ditunjukan oleh filsuf sekelas Heidegger dan pernah pula dilakukan oleh sosok sekelas Platon yang pernah memilih menjadi penasehat Denys sang tiran dari Sirakusa, sebenarnya adalah perwajahan dari para intelektual kampus yang menjadi pelayan kekuasaan yang sampai kini masih tumbuh dalam diri sebahagian para guru besar di dalam kampus.

Mereka yang terbiasa bermanis-manis pada para penguasa, memberikan pangung akademik bagi para politisi dengan alasan kuliah umum, padahal harusnya mereka yang memberikan kuliah bagi para politisi itu, semakin meyakinkan saya mental bipolar ala hidegger benar-benar masih hidup sampai saat ini dan berurat akan menjadi habitus bagi sebahagian kalangan akademis.

Kritik Sartre

Jean paul Sartre, ketika mendengar sikap politik Heidegger yang memihak kepada Nazi lewat catatan redaksi Temps Modernes (majalah basis edisi/07/2018) menuliskan kritiknya; ‘Surat kabar di Prancis membicarakan Heidegger seolah seperti seorang Nazi. Tidak bisa di pungkiri, ia terdaftar sebagai anggota partai Nazi. Kadang bisa saja terjadi para filsuf tidak setia dengan ide terbaiknya, manakala mesti mengambil keputusan politik’.

Kritik Sartre diatas, rasanya masih kontekstual sampai kini untuk digaungkan. Apalagi jelang tahun pemilu saat ini, ketika banyak dari para intelektual kampus wara wiri di depan televisi hanya untuk sekedar menjadi pemuja kekuasaan ataupun sebagai juru kritik untuk calon presiden penantang.

Dengan argumentasi yang dibuat-buat, mereka lebih nampak sebagai politisi daripada seorang akademisi, bahkan tindakan mereka bisa jadi lebih bar-bar dari politisi sebenarnya. Karena di balik berbagai argumentasi para intelektual politis itu, jika digeledah lebih dalam akan ditemukan pengharapan semoga setelah pemilihan presiden dirinya bisa dapat jatah menjadi menteri atau paling tidak menduduki posisi tertentu di dalam panggung kekuasaan.

Gaya intelektual medioker dengan mental pelayan lengkap dengan stempel legitimasi kepakaran itu, pelan-pelan kini mendominasi berbagai diskursus publik Negeri ini. Baik mereka yang menjadi pembela maupun penantang dari dua pasangan calon presiden yang kini sedang bersaing untuk terpilih.

Mereka berdebat layaknya panglima perang untuk membenarkan setiap prilaku calon yang mereka dukung, tanpa berani mengakui kelemahan dan kekuarangan masing-masing. Bahkan terkadang, tanpa berpikir tangung jawab moral dan etis, dengan telanjang dan tanpa sungkan-sungkan  menyusun berbagai argumentasi sesat dan menyesatkan nalar publik yang celakanya di bagun dengan legitimasi akademik.

Seperti mengulang kesalahan Heidegger, banalitas intelektual partisan itu yang dalam kalimat yang lebih sederhana, sering saya  sebutkan sebagai upaya ‘menjual pendapat untuk meningkatkan pendapatan’, kini begitu marak dan semakin memperkeruh ruang wacana politik kita yang semakin lama, semaakin padat  diisi oleh perdebatan tanpa isi dan substansi.

Mungkin benar kritik Sartre;  ‘kadang bisa saja terjadi para filsuf tidak setia dengan ide terbaiknya, manakala mesti mengambil keputusan politik’. Karena memang jalan sunyi selalu dekat dengan kesepian dan kesendirian terkadang terlalu menyakitkan, termasuk bagi para filsuf sekelas Heidegger sekalipun.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s