Air Mata Mulan Jameela

mulan-jameela-nangis

Mulan Jameela tidak bisa menahan air mata, ketika Karni Ilyas minta mantan personel duo ratu itu bercerita tentang peristiwa sebelum akhirnya Ahmad Dhani langsung ditahan di lembaga pemasyarakatan Cipinang. Apalagi, ketika perempuan yang bernama lahir Raden Terry Tantri Wulansari itu, menyanyikan lagu ‘kangen’ di acara Indonesia Lawyer Club (ILC) beberapa pekan yang lalu, saya yakin bukan hanya tangis Mulan yang pecah malam itu.

Banyak air mata lain yang juga tumpah, tersentuh oleh cerita dan isak sedu Mulan. Apalagi beberapa kali nyanyian Mulan terhenti, karena tangis yang tidak juga bisa usai, membuat rasa haru itu semakin terasa menyebar. Mulan yang cantik serta anggun  dengan hijab biru yang  terjuntai panjang, berhasil membuat Indonesia  larut dalam‘frame kisah seorang istri yang mesti berpisah dengan suami yang jadi  korban politik’.

Politik memang tidak melulu soal rasionalitas, politik juga bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat psikologis. Itulah kenapa dalam kajian prilaku pemilih, lahir pandangan Mazhab Michigan. Kelompok ilmuwan politik dari mazhab ini percaya, bahwa prilaku politik pemilih lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan yang bersifat emosional kejiwaan, dibandingkan hal-hal yang bersifat institusional, sosiologis, apalagi rasional, layaknya pandangan mazhab Colombia maupun penganut Rational Choice .

Salah satu senjata psikologis yang kuat dalam arena politik, menurut hemat saya adalah air mata. Apalagi, air mata seorang perempuan yang tumpah karena rindu pada kekasih, istri yang teraniaya oleh rezim, sekaligus ibu yang bingung mesti menjawab kepada anaknya, tentang mengapa ayah mereka mesti masuk penjara.

Tentu, air mata itu akan  sangat kuat mempengaruhi perasaan dan psikologis  pemilih dan akan punya konsekuensi bagi elektabilitas rezim petahana. Apalagi, Ahmad Dhani tidak sendiri. Seolah menemukan pembenaran, tentang rezim yang anti kritik, satu persatu mereka yang bersebrangan dengan kekuasaan kini mesti berhadapan dengan masalah hukum.

Bagi saya, gaya politik pressure seperti yang kini terjadi, justru sangat merugikan kandidat petahana. Karena ibarat bola kasti, semakin dipukul keras, maka daya lenting yang dihasilkan akan sama kuatnya,  bahkan bisa tidak terduga arahnya. Sederhanya, semakin rezim ini menekan  barisan penantang dengan pola yang ada,  bisa jadi simpati bahkan lompatan elektabilitas justru akan didapatkan oleh penantang.

Apalagi sudah ada air mata perempuan yang tumpah. Karena sekali lagi, secara psikologis, pemilih di Indonesia sangat membenci sosok antagonis dan mereka akan mencintai sosok yang terzalimi dan tersakiti, apalagi seorang perempuan yang nampak lemah. Layaknya sejumlah peran di sinetron indonesia, maka sosok antagonis yang berkuasa akan dibenci, sementara mereka yang lemah, selalu disakiti dan dizalimi, akan dicintai dan mendapatkan simpati.

Air Mata Mulan dan Elektabilitas Jokowi

Saya tidak cukup paham, apa alasan dibalik berubahnya gaya politik Jokowi dari equalitarian style  yang bersifat merangkul, kini berubah menjadi agresif. Hal ini terbaca dari berbagai momentum, mulai dari istilah politik genderuwo, sampai berbagai pressure hukum yang kini telah menjadi opini publik, merupakan serangan bagi mereka yang ada pada barisan penantang. Termasuk pula, gaya menyerang Jokowi ketika debat perdana yang lalu.

Politik ofensif yang kini dipraktekan oleh Jokowi dan tim, menurut saya adalah hal yang sangat bertentangan dengan karakter Jokowi sendiri. Kurang sesuai dengan gambaran tipologi sosiologis pemilih Indonesia yang pada tahun 2014 lalu mayoritas memilih Jokowi, karena merepresentasikan ‘ke-kitaan’ yakni kesederhanaan, kesopanan dan representasi rakyat Indonesia kebanyakan.

Apa yang dilakukan Jokowi, juga tidak merepresentasikan frame gaya politik petahana yang lazim. Biasanya, petahana akan lebih defensif dan lebih banyak melakukan klaim akan keberhasilan, bukan justru menyerang penantang yang sudah sewajarnya tampil ofensif, karena sedang menjual gagasan perubahan.

Kekalahan Ahok pada pilgub Jakarta dan kemenangan Anies, semestinya menjadi cermin bagi Jokowi dan tim,  bagaimana pemilih akan lebih simpati kepada politik kesantunan, dibandingkan sosok kepemimpinan  rasional namun reaktif. Celakanya, dalam hemat saya secara perlahan Jokowi kini mulai terjebak pada gaya yang sama dengan yang dipraktekan oleh  Ahok sebagai petahana, sementara Prabowo dan Sandi kini nampak lebih luwes dibandingkan Jokowi.

Jika pola ini terus dipertahankan oleh kandidat petahana, bukan tidak mungkin akan menyebabkan elektabilitas petahana akan jatuh. Apalagi, jika banyak air mata seperti air mata Mulan yang terus tumpah di depan kamera, psikologi orang-orang terzalimi dan frame kriminalisasi menyebar menjadi opini publik, air mata itu saya yakini bisa berubah menjadi banjir besar jika tidak cepat diatasi.

Karena saya percaya, kemenangan politik tidak selalu berhubungan dengan soal capaian kerja dan kinerja, tapi politik juga soal urusan rasa. Termasuk soal Air mata Mulan.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s