#UninstallJokowi, Dukung Achmad Zaky

ahmad-zaky-123

Sejak kemarin, riuh jagat media sosial terjadi. Bermula dari postingan Twitter Achmad Zaky, Founder & CEO Bukalapak.com  yang menulis kritik mengenai anggaran Research and Development (R&D) Indonesia yang minim dan soal ‘Presiden Baru’, telah memicu reaksi berlebihan pendukung Jokowi yang menyerang dengan #Unistallbukalapak.

Bola liar #Unistallbukalapak yang digaungkan penuh emosional oleh pendukung Jokowi itu, ternyata mendapatkan reaksi yang lebih besar dan tidak terduga dengan munculnya #UninstallJokowi dan yang paling baru #ShutDownJokowi yang kemudian menjadi trending topic twitter.

Kejadian itu, membuat sejumlah orang dekat Jokowi buru-buru bereaksi dari Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sampai Gibran Rakabuming, putra Presiden Jokowi langsung melakukan klarifikasi, bahwa apa yang dilakukan oleh pendukung Jokowi terlalu berlebihan bahkan kata Gibran lewat twitnya, Norak!

Terlepas dari latar keributan yang terjadi, termasuk soal akurasi data yang disampaikan oleh Zaky, bagi saya apa yang dilakukan oleh pasukan perang  dan barisan pendukung Jokowi di media sosial, memang adalah sebuah blunder yang norak dan semakin menjatuhkan elektabilitas Jokowi sendiri.

Pertama, seperti pesan yang saya sampaikan pada tulisan sebelumnya https://rahmadarsyad.com/2019/02/15/air-mata-mulan-jameela/, arena politik juga sangat berhubungan dengan hal-hal yang bersifat psikologis dan kejiwaan massa. Lewat kejadian ini, menurut saya pasukan perang Jokowi di jagat maya, telah menunjukkan diri tidak lebih dari barisan pemukul yang reaksioner.

Sebagai petahana, jika ingin membantah pendapat Achmad Zaky, sebenarnya para ‘pendukung Jokowi yang selalu benar’ cukup menampilkan data perbandingan jika apa yang disampaikan oleh bos Bukalapak.com kurang tepat. Bukan dengan balasan merajuk ala-ala childish dengan main #Unistall.

Sekali lagi, ibarat bola kasti, setiap pukulan petahana akan mendapatkan reaksi yang sama besarnya. Jika reaksi itu berlebihan justru akan membuat bola itu liar dan sulit untuk diprediksikan ataukah kejadian ini konsekuensi dari arahan tim pemenangan nasional yang menerapkan pola bermain ofensif dengan formasi menyerang? Saya tidak tahu.

Kedua, tuduhan bahwa rezim dan pendukung Jokowi sebagai kelompok yang anti kritik semakin sulit terbantahkan dalam benak publik. Apalagi setelah kejadian ajakan #Unistallbukalapak. Pasalnya, jika dibaca secara serius, lantas dipertanyakan dengan sedikit sistematis apa yang salah dari pesan kritik Achmad Zaky soal budget R&D Indonesia yang minim?

Sebagai orang yang banyak bergelut dalam dunia penelitian, saya merasakan betul, bagaimana pemerintah secara nasional sampai daerah memang tidak pernah serius dalam pengembangan dunia riset. Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Ristek Dikti, Muhammad Dimyati, lewat detik.com menyampaikan fakta bahwa anggaran  R&D Indonesia sampai tahun 2017 hanya mencapai 0,25 persen terhadap GDP atau sekitar US$ 2,54 miliar (PDB Indonesia 2017 US$ 1.016 triliun).

Jika dibedah lebih mendalam, persoalan sebenarnya tidak hanya berhenti pada porsi besaran jumlah anggaran riset. Soal yang lebih pelik adalah akses dan prosedur terhadap anggaran riset yang berbelit-belit dan kebiasaan buruk rezim birokrasi pemerintahan yang lebih sibuk pada administrasi dibandingkan luaran penelitian itu sendiri.

Sebagai contoh, Kemenristekdikti sebagai kementerian yang porsi anggaran risetnya terbesar yaitu 4,2 persen dari total anggaran, sampai hari ini, masih menerapkan berbagai standar administrasi yang membuat para dosen, peneliti dan guru besar, harus berpikir panjang sebelum mengajukan proposal penelitian mereka.

Dana yang diajukan tidak seberapa, namun prosedurnya Masya Allah. Mulai dari menyiapkan proposal penelitian online, pemeriksaan kelengkapan adimistrasi, prosedur tim, sampai berbagai nota pertangungjawaban yang benar-benar menyita waktu, tenaga dan pikiran. Sampai-sampai para guru besar, dosen dan peneliti kita, lebih sibuk membuat administrasi pelaporan dibandingkan menjaga kualitas dan kedalaman penelitiannya.

Jangan tanya, pada level pemerintah daerah situasinya jauh lebih parah. Para peneliti dan lembaga penelitian diperlakukan layaknya vendor penyedia barang dan jasa. Padahal setelah presentasi akhir hasil penelitian, jangankan dipergunakan oleh pengambil kebijakan pemerintah daerah, dibaca saja tidak.

Ketiga, saya sangat setuju dengan cuitan terakhir Achmad Zaky bahwa yang ‘membedakan negara maju dan miskin adalah soal R&D’. Karena memang pada konteks negara maju, kebijakan dibuat berdasarkan pertimbangan riset, keputusan dihasilkan lewat kajian yang baik dan mendalam. Dunia usaha, pemerintah dan kampus saling bersinergi melahirkan inovasi lewat tradisi penelitian. Bukan seperti yang terjadi saat ini, ketika bisnis, pemerintah dan kampus sibuk bersekutu dalam dukung-mendukung calon presiden.

Ah, andaikan Achmad Zaky mencalonkan diri jadi presiden, tentu saya akan memilih dia saja sebagai ‘presiden baru’.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s