Debat Capres yang Menghina Nalar

 

timses-prabowo-sandi-imbau-kubu-jokowi-jangan-baper

Jika saya, bukan suami yang setiap hari melihat istrinya berjuang penuh semangat untuk mengajak publik agar ikut berpartisipasi dalam pemilu, tentu dengan mudah dan bebas, saya akan berseru, ‘mari sama-sama untuk tidak memilih dua pasangan calon presiden yang telah menghina nalar publik kita dengan telanjang’.

Karena kasihan mendengar suara istri yang ketika pulang suaranya selalu serak, akibat sibuk melakukan sosialisasi kepada pemilih. Demi cita-cita menghadirkan pemilu yang punya partisipasi publik yang tinggi, walau mesti keluar masuk pasar dan lorong, sekolah dan kampus, masjid sampai pura, bertemu barisan ibu-ibu milenial sampai kalangan disabilitas, anak nongkrong sampai anak rohis, demi tangung jawab sebagai penyelenggara pemilu.

Telah membuat saya berusaha, menahan diri untuk bicara di banyak mimbar. Bahwa sebagai rakyat, kita  sedang disodorkan pada dua pilihan capres yang tidak layak memimpin negeri ini, lantas apa guna kita bersusah payah, mesti sibuk untuk ikut memilih orang-orang yang jauh dari pantas itu?

Saya mengikuti dengan saksama, betapa buruknya dua kali debat oleh dua calon presiden yang sebenarnya sudah dua kali berkesempatan mencalonkan diri. Orang yang sama dalam dua periode pemilu, namun kualitas perdebatanya masih jauh untuk membuat rakyat negeri ini bisa berharap banyak kepada mereka untuk membawa kemajuan yang berarti.

Rakyat indonesia, memang sungguh penyabar. Mampu menahan diri atas nama sopan santun ketimuran untuk tidak berteriak, bahwa kedua capres yang disodorkan oleh koalisi elit-elit parpol itu, sama sekali tidak layak untuk jadi pemimpin. Karena itulah, banyak yang  menghibur diri dengan kalimat eufemis yang dibuat manis;  ‘keduanya adalah putra terbaik bangsa’.

Bagi saya, jelas dan tegas, keduanya baik Petahana maupun Penantang yang lima tahun ini terus berseteru dan mengurung pikiran publik, seolah-olah hanya mereka yang menjadi representasi pemimpin Indonesia, sangat tidak layak menyandang gelar sebagai calon yang merepresentasikan putra terbaik bangsa.

Debat yang Menghina Nalar

Filosofi debat adalah saling mengadu argumentasi, pendapat atau gagasan akan topik yang sedang dibicarakan. Pertanyaan yang muncul, baik pada debat pertama maupun kedua kemarin, gagasan besar apa yang keluar dari mulut petahana maupun penantang? Sampai saat ini, jujur saya tidak menemukan.

Kandidat petahana,tidak bicara argumentasi besar apa-apa soal tema  energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup maupun infrastruktur. Jokowi hanya berkutat pada soal berapa jumlah ekspor jagung dan beras, panjang jalan yang sudah dibangun atau soal klaim kebakaran hutan yang tidak ada lagi.

Bahkan sang petahana lebih sibuk bertanya,  soal unicorn dan kepemilikan lahan Prabowo yang kemudian menjadi viral. Presiden petahana rasa penantang yang sibuk menyerang itu lupa, sekarang hidup pada zaman apa,publik begitu mudah mencari mana data yang benar dan tidak. Akhirnya, penghakiman publik bahwa Jokowi tidak jujur dan ngawur,  kini sulit untuk di bantah oleh tim suksesnya sendiri.

Pada posisi penantang, juga tidak jauh berbeda. Bermodalkan pasal 33 bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikusai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat, Prabowo berusaha tampil meyakinkan publik soal gagasanya bagi Indonesia.

Apa yang baru dari menekankan akan pasal 33 itu, pernyataan yang merupakan amanat konstitusi republik ini sejak berdiri, sesuatu yang telah dibuat oleh para pendiri bangsa ini puluhan tahun yang lalu? Lantas, apa gagasan atau visi besar yang ada didalam kepala seorang Prabowo dalam mengelola energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup dan infrastruktur sesuai dengan cita-cita konstitusi itu? Sama sekali tidak hadir sampai debat berakhir!

Sejak awal debat kemarin, Prabowo juga berkali-kali berusaha menegaskan punya sudut pandang yang berbeda dengan presiden petahana. Lantas apa perbedaan itu? Sama sekali kita tidak mendengarnya. Anehnya yang terdengar, justru berulang-ulang Prabowo menyatakan kesamaan dan kesepakatanya atas pernyataan petahana.

Membuat teman saya, berulang-ulang bertanya kepada saya, terus berbedanya dimana? Dimana? Please, jangan tanya saya!

Presiden dari Calon Independen

Melihat gambaran debat dua capres yang merupakan produk koalisi elit partai politik itu, membuat saya tidak yakin akan adanya perubahan yang besar bagi Indonesia pada masa akan datang. Kita masih harus rela, lima tahun negara ini  akan dipimpin oleh Presiden tanpa visi dan gagasan yang jelas.

Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita menyalakan lilin harapan, begitu kalimat bijak yang pernah saya dengar. Dibandingkan terus membahas debat semalam, mari kita berpikir akan masa depan. Sudah waktunya kita mulai berani menghadirkan wacana baru bagi sirkulasi elit negara ini yang selama ini hanya ditentukan oleh kuasa partai semata.

Kehadiran calon presiden independen, adalah ruang alternative yang memungkinkan bagi rakyat untuk menentukan sirkulasi elit tanpa melalui jalur partai politik, layaknya dua capres pilihan parpol yang kini sedang berkompetisi. Karena pada prakteknya, di pemilihan kepala daerah sudah membuktikan hal itu, banyak kepala daerah yang bisa menang lewat jalur independen dan mampu memimpin daerah dengan baik, tanpa perlu mengibakan diri pada sokongan koalisi parpol.

Pada beberapa negara, seperti Jerman, Rusia, Polandia juga telah
mempraktikkan kehadiran Presiden atau Perdana Menteri dari jalur independen. Mereka yang dipilih oleh dukungan warga dan komunitas, tanpa perlu melalui jalur parpol dan pada akhirnya bisa memimpin dengan baik.

Lagi pula, faktanya pada banyak survei sudah membuktikan soal ketertarikan publik akan calon Presiden independen. Temasuk survei LSI tahun 2007 yang lalu, dimana mayoritas pemilih yakni sebesar 68,8 persen setuju bahwa pencalonan Presiden tidak harus mesti melalui partai politik, namun bisa melalui jalun independen.

Saya pikir, diskursus akan  hal ini jauh lebih baik dibandingkan menonton perdebatan capres pilihan parpol yang yang miskin ide dan gagasan itu, mereka yang menghina nalar kita dengan fakta dan data yang tidak sesuai atau sekedar mengulang-ulang pikiran pendiri bangsa puluhan tahun yang lalu dengan suara yang keras dan menggelegar tanpa argumentasi apa-apa.

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Debat Capres yang Menghina Nalar

  1. Para kandidat presiden sedang mengumbar janji-janjinya dalam debat pilpres yang sudah berlangsung ini. Inilah investasi janji kepercayaan yang sedang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Namun jangan sampai terjadi bila investasi janji kepercayaan ini hanya sebatas pintu pagar debat pilpres semata. Percayalah, rakyat akan marah dan jangan salahkan rakyat berdemo setiap hari untuk menagih janji investasi tersebut. Ini yang paling penting kita ingat, siapapun yang terpilih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s