Tafsir Semiotika, Puisi dan doa Neno

Screenshot (21)

Doa atau mungkin juga puisi Neno Warisman, pada acara Munajat 212 di monas kemarin langsung jadi viral. Karena dalam potongan video yang tersebar dan ramai dibagikan pada grup- grup Whatsapp, terdapat petikan kalimat rintihan atau bisa juga tekanan kepada Tuhan;

Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami
dan menangkan kami,
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu

Sebagian orang, kemudian mengaitkan puisi atau doa mantan penyanyi dan bintang film era tahun 80an tersebut dengan doa Rasulullah ketika terjadi perang badar pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriah. Dalam perang badar, pasukan Muslim yang berjumlah 313 orang, melawan pasukan Quraisy Mekkah yang berjumlah sekitar 1.000 orang, Rasulullah kemudian diriwayatkan berdoa;

“Ya Allah Azza wa Jalla, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.” [H.R. Muslim 3/1384 hadits no. 1763]

Tafsir Semiotika Puisi dan Doa Neno

Saya tertarik untuk membaca dan menafsir petikan puisi ataupun doa mantan rekan duet Fariz RM tersebut dengan kacamata analisis semiotika. Karena sebagai ilmu tentang tanda dan penanda, semiotika cukup memberikan alat bantu untuk menghadirkan apa yang disebutkan oleh Roland Barthes sebagai “order of signification” (makna yang sebenarnya).

Roland Barthes, memberikan beberapa konsep inti dari tradisi semiotik sebagai jalan menggali makna yang tersembunyi dibalik setiap tanda dan penanda yang hadir. Termasuk dalam membedah puisi Neno yang kini heboh, lewat tiga konsep pokok yakni;  denotasi, konotasi dan mitos.

Jika kita membaca apa makna denotasi puisi Neno, sebagai lambang yang paling nyata atau makna tingkat pertama, maka puisi tersebut setidaknya membawa lima pesan; jangan Engkau tinggalkan kami, menangkan kami, Karena jika Engkau tidak menangkan, Kami khawatir ya Allah,Tak ada lagi yang menyembah-Mu!

Lima pesan denotasi itu, jika kita maknai baik pada level penanda (signifier) maupun pada  pertanda (signified) akan mengantarkan pada dua pesan utama. Pertama, harapan agar Allah tidak meninggalkan Neno dan mereka yang berjuang bersama barisan munajat 212 di monas.

Kedua, kecemasan sekaligus ketakutan, jika Allah tidak memenangkan mereka, maka tidak akan ada lagi yang akan menyembah Allah.

Selanjutnya, apa mitos yang ingin dibangun di balik puisi ataupun doa Neno tersebut ? Lalu apa hubungan simbolik baik secara sintagmatik maupun paradigmatik, dibalik banyaknya yang mengaitkan dengan doa Rasulullah S.AW ketika terjadi perang badar pada 17 Ramadan 2 H dengan doa Neno dan peserta Munajat 212?

Ketika dibaca secara semiotik, maka kita akan menemukan satu mitos yang ingin Neno Warisman dan barisan munajat 212 sampaikan dan tegaskan; ‘kami adalah barisan muslimin badar yang sedang berjuang melawan kaum kafir Quraisy, jika kami kalah maka tidak akan ada lagi yang akan menyembah Allah’!

Puisi Neno dan dibalik Layar Mitologi Perang Badar

Bagi saya, lewat puisi ataupun doa Neno Warisman kita bisa membaca landscape dibalik layar hubungan mitologi puisi atau doa Neno itu dan panggung gaya kampanye politik yang sedang dimainkan oleh Neno Warisman yang jelas-jelas merupakan bagian dari tim kampanye politik Prabowo-Sandi.

Lewat gaya firehouse campaign, Neno sebenarnya sedang berupaya membangun mitologi kepada khalayak ‘bahwa dirinya dan orang-orang yang mengaminkan doanya, adalah barisan mujahidin penyelamat umat agar selamat  dari kaum kafir’.

Pertanyaaan kritis yang bisa kita ajukan dari makna puisi Neno tersebut, siapakah kaum kafir dan siapa kaum muslimin? Benarkah kita dalam situasi perang badar ?

Membangun gaya kampanye dengan politik segregasi (pembelahan) seperti yang terbaca dari puisi atau doa Neno adalah cara yang menyesatkan. Apalagi, membawanya dalam ranah agama dan iman. Secara nyata, kedua calon merupakan umat muslimin juga barisan  Rasulullah.

Kecemasan bahwa jika mereka kalah dan tidak akan ada yang menyembah Allah adalah upaya dramatisasi yang terlalu jorok, karena dalam negara ini kebebasan beragama dan menjalankan ibadah adalah hal yang terjamin oleh undang-undang.

Menarik peristiwa pilpres kedalam mitologi perang badar, juga adalah framing yang tidak sesuai. Karena konteks perang badar dan pemilihan presiden adalah dua peristiwa yang sangat jauh berbeda, antara perjuangan ke- Tauhidan dan sirkulasi pergantian kepemimpinan politik lima tahunan.

Terakhir, pertanyaan filosofis yang sedikit nakal, namun terus bermain di kepala saya, apakah benar seorang Neno Warisman beriman kepada Allah? Karena jika dirinya beriman kepada Allah, tentu dirinya tidak lagi perlu membuat kalimat, ‘seolah-olah Allah akan pergi meninggalkan dirinya’.

Apalagi, sampai meragukan kekuasaan pencipta, lewat kesimpulan dengan nada mengancam, ‘jika dirinya kalah perang, tidak akan adalagi yang menyembah Allah’. Tiba-tiba saya teringat pelajaran Guru saya, sesungguhnya kita manusialah yang harus lebih banyak tau diri, bahwa kita yang membutuhkan Allah, bukan Allah yang butuh diri kita, termasuk dalam urusan sembah menyembah.

Ah, mbak Neno…

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Tafsir Semiotika, Puisi dan doa Neno

  1. Semiotika adalah salah satu buah pemikiran atau sebagai ilmu yang mempelajari struktur, jenis, tipologi serta relasi dalam penggunaan di dalam masyarakat. Dalam perjalanan waktu ia akan memiliki pandangan yang terstrukturalis, prinsip utama: struktural, kesatuan, sinkronik, konvensional, representasi dan kontinuitas. Namun pandangan Neno lain, ia hanya bisa melontarkan tanpa mengenal makna yang sebenarnya. Inilah politik yang ambigu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s