Kampanye Hitam

m86dcj9lb2ck2xqcp7xp

‘Jika Jokowi terpilih 2019, tidak ada lagi suara azan, tidak ada lagi yang pakai kerudung, perempuan dan perempuan boleh menikah, laki-laki dan laki-laki boleh menikah

Saya menonton dan membaca sejumlah liputan media, soal kampanye door to door yang bermuatan black campaign yang tersebar itu. Kata sejumlah media, pelaku aksi tersebut adalah Relawan Partai Emak-emak (PEPES) di kabupaten kerawang yang kini sudah jadi viral.

Tidak tega rasa-rasanya, melihat 3 orang emak-emak harus berurusan dengan polisi. Karena menurut saya, mereka hanya korban dari arus besar propaganda kebencian yang terus tersebar, bertiup pada ruang publik kita.

Kasihan dengan waktu mereka yang terbuang sia-sia untuk melakukan kerja-kerja yang dalam komunikasi politik disebutkan sebagai whispering campaign, sementara waktu mengurus anak, suami dan keluarga di rumah terbuang-buang.

Saya juga tidak yakin, bahwa emak-emak itu benar-benar paham bahwa aksi mereka tidak dibenarkan dalam sebuah kampanye politik. Karena jika benar kejadian yang terjadi seperti gambaran video yang beredar luas, jelas-jelas menurut saya, sudah memenuhi unsur sebagai kampanye hitam.

Sebuah kampanye hitam sangat berbeda dengan kampanye negatif atau negative campaign. Kampanye hitam adalah tuduhan, propaganda yang mengarah pada fitnah tanpa dasar dan fakta. Kampanye hitam dalam pemilu juga memuat penjelasan sebagai bentuk penghinaan atas suku, agama dan ras orang lain.

Sementara kampanye negatif, adalah upaya mengungkapkan kelemahan seorang calon atau kandidat yang berbasis pada fakta yang ditemukan atau dirasakan. Tentu berdasarkan pengertian itu, antara black campaign dan negative campaign adalah dua sisi yang berbeda jauh.

Misalnya saja, saya pernah menulis bahwa ‘Jokowi gagal menghadirkan 9 janji Nawa Cita yang menjadi visi Jokowi pada priode yang lalu’. Terutama, menghadirkan rasa aman bagi warga negara.

Karena masih ada teror bom, kasus penyiraman air keras bagi penyidik KPK, sampai masih marak kejadian persekusi antar warga negara. Tentu itu adalah bagian dari kritik dan jika dijadikan sebagai amunisi kampanye negatif oleh penantang untuk menyerang Jokowi, saya rasa hal yang wajar.

Demikian pula, ketika saya pernah mengulas ‘revolusi mentah’ yang merupakan pelesetan dari ‘revolusi mental’ yang pernah bergema dengan gegap gempita, lalu tenggelam bersama kenyataan, banyaknya elit penyelenggara negara yang masih korupsi, termasuk dalam jajaran menteri Jokowi, sekali lagi itu adalah bagian dari kampanye negatif.

Kampanye Hitam dan Emosi Massa

Jika kita bedah lebih serius, apa yang menjadi latar belakang kampanye hitam tetap marak dalam setiap pemilu? Bahkan, penggunaan kampanye hitam bukan hanya terjadi di Indonesia namun juga terjadi di negara seperti Amerika pada pilpres yang lalu, ketika Donald Trump menggunakan isue rasisme ‘kulit putih bersatu’.

Berdasarkan penelitian yang pernah saya lakukan, ‘Pemilu dan Kampanye Hitam’, terdapat tiga alasan mengapa kampanye hitam banyak dilakukan oleh kontestan pemilu. Baik pada pemilihan Kepala Desa, Bupati/Walikota, sampai Gubernur dan bisa jadi pola yang sama berulang di Pilpres kali ini.

Pertama, kampanye hitam adalah cara paling cepat dalam membentuk rasa solidaritas pemilih dan calon. Mengapa? Karena lewat kampanye hitam, apalagi yang berbasis pada isue kesamaan identitas, seperti agama, suku, kekerabatan akan membuat rasa proximity (kedekatan) antar pemilih dan kandidat bisa terjadi lebih cepat dan efektif.

Politik ‘kami’ dan ‘kamu’ dalam beberapa kasus pilkada yang saya ikuti dan teliti, adalah cara paling efektif dalam menarik dukungan pemilih. Isue putra daerah, agama mayoritas dan minoritas, pada beberapa kasus masih sangat menonjol mengalahkan pertimbangan soal kapasitas calon.

Kedua, kampanye hitam adalah kampanye yang besifat propaganda dan bukan bersifat memersuasi pemilih. Karena bersifat propaganda, bukan membujuk, maka hal yang menjadi produk kampanye yang dijalankan, terutama pesan-pesan politik yang  bertujuan membangkitkan rasa sentimen emosional pemilih, sekaligus resistensi bagi mereka yang menjadi lawan politik.

Pada kasus kampanye hitam yang dilakukan oleh emak-emak di karawang, jelas adalah upaya untuk membangun resistensi atas Jokowi lewat horor dan teror. Tujuanya, menyebarkan ketakutan dan ancaman akan prinsip-prinsip yang selama ini diyakini seperti azan yang akan hilang, larangan menggunakan jilbab sampai LGBT.

Berdasarkan temuan saya selama ini, kampanye hitam seperti yang terjadi di karawang biasanya dipakai untuk menyerang basis pendukung lawan atau mengubah presepsi pemilih pada daerah dimana banyak pemilih belum memiliki referensi politik tetap. Targetnya, mengarahkan swing voters dari kemungkinan memilih lawan untuk berbalik memilih calon yang mereka dukung atau minimal mengganggu basis tersebut.

Ketiga, kampanye hitam biasanya digunakan oleh para calon yang punya banyak kelemahan. Bisa jadi kelemahan akan gagasan, program atau bisa jadi kekurangan dana untuk melakukan kampanye dengan program dan kemasan yang kreatif serta menarik hati pemilih.

Lewat kampanye hitam melalui metode whispering campaign ala emak-emak ini, sang penggerak kampanye hitam berharap bisa menutupi kelemahan mereka. Sembari terus membakar emosi pemilih dan mengubahnya menjadi sentimen solidaritas dan ujungnya, berharap menjadi keterpilihan yang besar.

Ah, sesuatu yang buruk bagi Pendidikan Politik dan perjalanan Demokrasi negeri ini.

Duh, kasihan emak-emak!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s