Menebak Langkah JK?

Karena sama-sama orang Sulawesi, satu almamater di Universitas Hasanuddin, apalagi punya istri yang satu kampung dengan Pak Jusuf Kalla, saya begitu sering menjadi sasaran empuk pertanyaan orang-orang ibu kota atau mereka yang berasal dari bagian barat indonesia, soal kemana langkah politik seorang Jusuf Kalla pada pilpres 2019?

Teman-teman saya yang jurnalis, para dosen yang jadi analis politik, penggiat sosial media, selalu penasaran soal jurus JK pada Pilpres kali ini.

Seorang teman dosen pernah bertanya, soal mengapa JK terkesan membela Prabowo, soal lahan Hak Guna Usaha (HGU)?

Sahabat saya yang lain, aktivis media sosial, pernah protes kepada saya, ‘bang kok ada kampus di Sulawesi Selatan yang katanya punya hubungan dengan kelurga JK, mengundang Rocky Gerung?

Ada juga yang sampai buat pertanyaan yang lebih menyerupai pernyataan, ‘emang pak Jusuf main dua kaki yah di pilpres kali ini, karena beliau dekat dengan Sandi?

Untuk semua pertanyaan dan pernyataan itu, hanya bisa saya jawab dengan jujur, mohon maaf saudara-saudara saya tidak tau pasti.

Saya sama seperti anda-anda semua, berjarak dengan sosok Wapres Jusuf Kalla. Siapa sih saya ini? Jangan karena sama-sama orang Sulawesi dan berasal dari kampus yang sama, lantas saudara-saudara berpikir saya mengenal beliau dengan baik.

Saya sudah pasti mengenal pak Jusuf yang merupakan ketua alumni kampus kami, sementara pak Jusuf hampir pasti tidak mengenal saya.

Lagi pula, jika misalnya pertanyaan yang hampir mirip saya ajukan kepada teman-teman saya itu;

 Anda orang Jawa Tengah?

Alumni Universitas Gajah Mada ?

Bisa jelaskan bagaimana seorang Joko Widodo, sampai begitu dekat dengan Luhut Binsar Panjaitan yang orang Sumatra Utara? Bahkan menjadikan mantan jenderal yang juga rekan bisnisnya itu, sebagai Menteri sekaligus orang paling dipercaya?

Saya juga tidak yakin, kawan-kawan saya itu juga bisa menjelaskan dengan baik.

Langkah  JK

Bagi saya pribadi, sosok Jusuf Kalla dalam politik mirip dengan ungkapan yang pernah disampaikan oleh Jenderal MacArthur ; I come through and I shall return.  Ya, ‘JK adalah sosok politisi yang selalu bisa kembali’.

Langkahnya sering tidak terduga, susah untuk menebak kemana langkah kaki Jusuf Kalla. Maka wajar, sebagian orang kemudian menjuluki Pak Jusuf sebagai politisi kancil. Karena bukan Jusuf Kalla namanya, jika tidak punya banyak akal.

Saya pernah bertanya kepada salah seorang saudara beliau. Bagaimana sebetulnya seorang Jusuf Kalla dalam mengambil keputusan?

Jawabanya, insting dan spontanitas. Seorang JK kata saudara beliau itu, adalah orang yang bergerak dengan insting untuk semua keputusan baik itu dalam dunia bisnis maupun politik.

Setelah mengamati dan melihat langsung persoalan, maka JK tidak butuh lama untuk membuat keputusan. Seperti jargon yang pernah popular ketika nyapres tahun 2009 bersama Wiranto, ‘Lebih cepat, Lebih baik’, jelas saudara pak Jusuf itu kepada saya pada suatu waktu.

Berdasarkan keterangan tersebut, kita bisa menerka bagaimana seorang JK dalam berpolitik. Sekali lagi, Insting dan spontanitas adalah dua kata kunci dari gaya politik seorang Jusuf Kalla.

Jadi saya tidak heran ketika ditanyakan soal lahan Prabowo, Pak JK langsung spontan memberikan keterangan dibalik proses kepemilikan lahan yang dipersoalkan oleh Jokowi yang kemudian heboh. Mungkin JK tidak mau berpikir terlalu panjang, soal efek yang muncul akibat keterangan yang diberikan, ‘seolah-olah JK mendukung Prabowo’.

Lantas, bagaimana soal ketegasan sikap politik Jusuf Kalla pada pilpres kali ini? Bukankah JK adalah ketua dewan tim pengarah Joko Widodo-Ma’ruf Amin?

Menurut hemat saya, kita perlu membaca konteks seorang Jusuf Kalla hari ini. Jusuf Kalla dalam pandangan saya, tidak terlalu berkepentingan soal dukung mendukung. Siapapun yang kelak menjadi capres atau cawapres dari dua pasangan yang ada, karena saya yakni seorang Jusuf Kalla punya relasi yang kuat pada kedua calon .

Entah, kubu Jokowi atau kubu Prabowo.

Menurut hemat saya, pandangan politik Jusuf Kalla sangat sederhana dan maaf agak klasik. Seperti ungkapan yang sering disampaikanya pada banyak wawancara; ‘Dalam politik tidak ada kawan yang abadi, juga tidak ada musuh yang abadi yang ada hanya kepentingan yang abadi’.

Pada usia usia sekarang, tidak mungkin lagi Jusuf Kalla mencalonkan menjadi Presiden, apalagi Wapres. Soal kepentingan bisnis? Kembali lagi pada argumentasi diatas, JK punya relasi yang kuat kepada dua calon.

Lagi pula, saya yakin JK sudah punya kuda-kuda tersendiri soal mengamankan relasi politik dan binis keluarga mereka.

Saya juga percaya, kali ini langkah Jusuf Kalla akan benar-benar kembali. Yakni, kembali menuju kampung. Karena, pada Ramadhan yang lalu, saat ingin berlebaran di kampung istri yang juga kampung Pak Jusuf, saya sudah melewati jalan dan jembatan layang camba yang menghubungkan maros dan kabupaten Bone.

Sebuah jalan dan jembatan yang super bagus, anggaran pembangunanya katanya sampai 167,68 miliar. Karena jalan dan jembatan layang yang baru itu, banyak orang tidak perlu lagi muntah-muntah melewati kelokan tajam camba yang terkenal ekstrim.

Kini jalan menuju kampung pak JK itu sudah lurus dan mulus, tentu langkah pak JK akan lebih cepat, lebih baik untuk pulang kampung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s