Syahrini, Luna dan Reino, Sama susahnya memilih Jokowi atau Prabowo?

Teman saya menulis status Facebook. ‘Memilih itu memang susah. Perlu pertimbangan matang, karena setiap pilihan pasti punya konsekuensi. Seperti Reino Barack  yang akhirnya lebih memilih Inces Syahrini dibandingkan Luna. Padahal, Luna sudah setia menemani 5 tahun. Sungguh-sungguh terlalu, kamu kejam Reino’…

Semula saya tertawa terbahak oleh status teman saya itu. Tapi kemudian, status itu membuat saya berpikir. Benar, kata teman saya itu. Memilih memang bukan soal gampang. Punya konsekuensi dan resiko.

Karena suka ataupun tidak, setiap pilihan membuat kita tergabung dan pasti akan berafiliasi pada kubu-kubu tertentu. Apalagi, pilihan itu hanya ada dua, serta melibatkan persetujuan orang banyak.

Memilih atau mendukung salah satu, pasti akan punya konsekuensi.

Seperti pendukung Syahrini yang tergabung dalam SYR Community pasti harus repot, membela pujaan mereka yang dituduh ‘teman makan teman’. Karena telah merebut kekasih sahabatnya sendiri.

Begitu pula, betapa nelangsa menjadi barisan Lunatic. Harus berjuang, menghibur idola mereka yang kekasihnya dirampas. Apa salah Luna? Kalian tega, kejam, tidak punya perasaan Roma eh,
Reino

Hemm…, cinta itu memang kejam jenderal!

Seperti barisan fans SYR Community atau Lunatic, soal fans pendukung calon Presiden juga tidak jauh berbeda. Pada media sosial, Fans Fanatik itu terbagi dalam dua kubu yang penuh sinisme, cebong dan kampret.

Para cebong akan habis-habisan membela Jokowi. Siapapun yang melakukan kritik atas Jokowi pasti kampret, karena bagi mereka Jokowi selalu benar. Serta ‘maksum’ dari segala celah dan salah.

Tidak mau kalah, bagi barisan kampret memilih Prabowo-Sandi adalah harga mati. Karena kalaupun mati, pasti masuk surga. Karena memilih Prabowo-Sandi adalah tiket surga, buktinya ada stempel ijtima ulama dan puisi atau doa yang bilang sedang perang badar.

Barisan Fans dan Sikap Politik yang Otentik

Saya teringat tulisan filsuf perempuan, kekasih Heidegger namanya  Hannah Arendt yang pernah berpesan ;

“Kekuasaan dimandatkan oleh masyarakat, namun masyarakat kemudian hanya memiliki kekuasaan itu pada saat pemilihan umum. Setelah itu, kekuasaan berpindah ke tangan penguasa yang mereka pilih.”

Bagi saya, tidak ada salahnya punya afiliasi politik. Entah menjadi seorang cebong, maupun kampret. Karena kedua-duanya adalah salah satu kemewahan dalam demokrasi yang memberikan kekuasaan itu pada tangan rakyat.

Namun, sebagai pemegang mandat perlu disadari kemewahan yang kita miliki itu harus benar-benar berdiri diatas kesadaran rasional dan nalar. Bukan kesadaran ala Fans yang fanatik buta, tanpa argumentasi yang jelas.

Karena sekali lagi, rakyat adalah pemegang mandat itu. Bukan penguasa apalagi sekedar elit politik.

Pilihan kita pada salah satu calon Presiden, sedikit banyak, akan punya konsekuensi bagi kehidupan pribadi kita sendiri pada hari-hari akan datang. Apalagi, kedua Capres sudah mulai mengeluarkan janji dan menarik diferensiasi politik satu sama lain.

Misalnya, ketika memilih Jokowi dompet kita akan diisi dengan banyak kartu mulai dari kartu BPJS, Kartu Indonesia Sehat, Kartu keluarga sejahtera. Plus, tiga kartu baru. Bagi mahasiswa ada KIP Kuliah, bagi pra sejahtera ada Kartu sembako murah dan kartu pencari kerja bagi mereka yang belum bekerja.

Sayangnya Kartu untuk para Jomblo, tidak masuk dalam daftar rencana Jokowi.

Sementara ketika memilih Prabowo-Sandi, maka anda akan menjadi seorang Nasionalis Patriotik. Pembela bangsa dan tanah air, sekaligus barisan pejuang badar yang sedang mempertanahankan agama dan keyakinan.

Pokoknya kekayaan alam kita harus digunakan sebesar-besarnya untuk rakyat. Asing tidak boleh berkuasa di negeri ini dan kita sedang berjuang bagi keyakinan, Takbir!!!

Caranya bagaimana ?

Tenang, ada Ok-Oce!!!

Kembali pada pesan Hannah Arendt, agar kekuasaan mandat rakyat tidak hanya berhenti sampai pada pemilu. Serta pemilih tidak hanya layaknya kumpulan Fans, maka sudah waktunya sebagai rakyat kita harus terus berdiri pada sikap kritis dan punya sikap otentik bagi kekuasaan.

Jangan sampai apa yang menjadi janji politik para capres hanya berakhir pada masa kampanye, publik harus berani menjadi oposisi dari setiap langkah kebijakan dari mereka yang sudah kita pilih. Jangan sampai, kekuasaan itu hanya untuk menguntungkan segelintir orang.

Dalam bayangan saya, para cebong harus tetap menagih janji Jokowi jika nanti terpilih. Begitu juga para kampret harus berani terus mengkritik Prabowo jika misalnya menang Pilpres, agar mandat yang diberikan oleh sekian ratus juta rakyat Indonesia itu digunakan benar-benar untuk kepentingan rakyat.

Bukan di bajak oleh lingkaran elit kekuasaan disekitar Jokowi atau Prabowo. Karena kitalah sebagai pemegang mandat itu, bukan segelintir elit itu. Karena itu, nalar kritis harus tetap terpelihara dalam jangka yang Panjang.

Karena kita tidak ingin menjadi Luna yang cintanya kembali kandas, setelah Ariel Noah, kini Reino Barack  yang membuat luna kembali terluka. Padahal, Luna sudah berusaha mencari cinta sejati yang susah dicari.

Kalau kata teman saya yang pakar Multi level marketing, kisah cinta Luna, Syahrini dan Reino itu ibaratnya seperti ini ; Luna yang Endorse, tapi Syahrini yang closing. Karena itu, jangan sampai kisah Luna berulang dan menimpa para cabong dan kapret, telah berkorban dan telah berjuang habis-habisan, sampai musuhan sama teman dan saudara sendiri.

Belakangan hanya para elit yang menikmati mandat dan perjuangan yang dilakukan oleh ribuan orang. Karena kita bukan barisan Fans, jadilah seperti Reino Barack yang beruntung jadi rebutan Luhut eh Luna dan Syahrini, bukan keluarga Soeharto yah.

Memilih itu memang susah. Bukan begitu Reino?

Selamat akhir pekan!

2 tanggapan untuk “Syahrini, Luna dan Reino, Sama susahnya memilih Jokowi atau Prabowo?

  1. Tentu pilihan itu kita sendiri yang harus menentukan. Ada pertimbangan yang matang dan takdir Tuhan. Karena Tuhan tahu mana yang terbaik untuk kita. Apakah itu pasangan hidup maupun pasangan pemimpin Indonesi yang akan kita pilih pada 17 April 2019 nanti. Sebagai warga negara yang baik, tentu kita harus mempertimbangkan pilihan yang akan kita pilih nanti bukan?

    Apapun pilihan kita dan pilihan orang lain yang berbeda dengan pilihan kita. Mari kita tetap saling menghormati dan menghargai,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s