Dilan 1991 ; Cinta, Puisi dan Demonstrasi

Saya sudah menonton film Dilan 1991, bagi saya film itu adalah drama romansa. Film yang berhasil membuat saya kembali pada ingatan akan kisah kasih di sekolah. Sekaligus, membuat rindu akan Kota Bandung bersemi kembali.

Pernah kuliah dan menghabiskan waktu beberapa tahun di Bandung, membuat saya cukup mengenal dengan baik kota itu. Merasakan hujan yang selalu datang, aroma tanah yang basah, serta berbagai bangunan heritage warisan belanda yang punya nilai kebudayaan dan sejarah.

Lewat Film Dilan, saya juga teringat akan kekaguman masa lalu saya kepada Tuhan atas Kota Bandung. Karena Tuhan, memberikan jatah neng geulis lebih banyak di kota ini. Membuat saya selalu berucap Masya Allah, sekaligus Istighfar ingat Istri dan Ali di Makassar.

Dilan 1991 ; Cinta, Puisi dan Demonstrasi

Jujur saja, saya selalu suka dengan film indonesia yang menampilkan tema cinta, puisi dan buku. Seperti Ada Apa dengan Cinta (AADC) atau Brownies yang pernah hits pada zaman saya SMU dan kuliah dulu.

Gambaran yang kurang lebih sama dengan film itu, saya temukan pada beberapa scene film Dilan, baik Dilan 1990 atau 1991.

Puisi-puisi Dilan juga dinarsikan dengan baik. Walau menurut saya agak sedikit Alay. Membuat saya teringat dengan pantun atau permainan gimmick ala almarhum Olga Syahputra.

Bisa jadi  juga, alasan mengapa saya kurang menikmati puisi atau jurus gombal ala Dilan dan Milea, mungkin karena saya sudah terlalu tua untuk larut dalam narasi kisah cinta di sekolah ala-ala anak SMU.

Nah, hal yang membuat saya aneh, mengapa ada yang melakukan demonstrasi dan aksi boikot atas film Dilan di makassar ? Apa yang mereka demo? Apa yang mereka boikot?

Saya membaca di sejumlah media, alasan para demonstrasi untuk melakukan aksi pemboikotan film Dilan 1991, karena tidak memuliakan guru, menampilkan kekerasan geng motor, serta sarat dengan adegan romantis.

Kalau toh tiga hal diatas yang jadi alasan, bagi saya para demonstran tersebut akan kecewa. Pasalnya tiga hal yang mereka tolak, selain adalah hal yang bersifat multi interpretasi juga sangat sedikit porsinya hadir dalam film tersebut.

Apa tafsir melecehkan guru? Ketika seorang murid melakukan kritik pada guru, itu hal yang biasa. Apalagi memang jika guru itu salah dan suka menggunakan kekerasan dalam pola Pendidikan.

Seperti aksi Dilan 1990 yang mungkin dijadikan alasan oleh para demonstran menolak film ini, namun pada Dilan 1991 aksi berkelahi dengan guru itu sudah tidak ada lagi.

Saya sendiri, pada konteks yang berbeda ketika SMP pernah begitu marah pada seorang guru matematika yang menyuruh kami keluar kelas, sementara dia asik mendekati seorang gadis cantik kelas kami.

Apakah para tukang boikot film itu, tidak pernah membaca salah satu catatan Soe Hok Gie ?

Guru yang tidak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau’.

Untuk alasan yang kedua dan ketiga, bagi saya adalah alasan yang sudah terlalu ketinggalan zaman. Serta maaf, terlalu bodoh untuk dijadikan sebagai argumentasi untuk melakukan boikot atas karya seperti Film.

Konten kekerasan, romatis bahkan vulgar, kini bukan hal tabu dalam dunia kita. Cukup hidupkan handphone, punya kuota internet, maka akses terhadap konten negatif itu begitu mudah untuk didapatkan.  Tidak perlu susah payah mesti ke bioskop.

Jika para polisi moral, bicara dengan dalil media literacy, itu lebih aneh lagi. Karena fokus media literacy itu pada orang, filter itu ada pada individu, bukan pada akses. Karena tanpa menonton Film Dilan, jutaan kanal mampu memproduksi konten kekerasan bahkan pornografi setiap saat.

Pelajaran Sederhana

Tanpa bermaksud menjadi spoiler, menurut saya Fajar Bustomi dan Pidi Baiq sebagai sutradara cukup baik memainkan kode simbolik yang biasa hadir sebagai pemanis dalam film. Utamanya ketika Mata Dilan dan Milea saling menatap di depan rumah Milea.

Ah, harusnya, tidak perlu digantikan dengan tangan.

Layaknya, dalam film Ada Apa dengan Cinta 2, ketika Nicholas Saputra yang dengan begitu tega membuat barisan Dian Sastro lovers menjadi marah, ketika bibir Nicolas bertemu dengan bibir mbak Dian.

Ah, kami kecewa!!!

Film ini menurut saya, justru juga punya pelajaran sederhana. Sekali lagi, tanpa bermaksud menjadi spoiler, ‘jika  tidak ingin putus dengan cewek cantik seperti Milea atau Vanesha Prescilla, jangan jadi geng motor dan jangan suka tawuran’.

Begitu pula, jika kamu cewek yang punya cowok ganteng seperti Iqbaal Ramadhan atau Dilan,  jangan terlalu gampang untuk bilang putus, nanti kamu menyesal karena pada akhirnya cinta kamu akan berakhir pada cowok seperti Andovi da lopez stand up comedian itu.

Lantas apa alasan film ini untuk di tolak? Apakah kalian mau jadi Lembaga sensor Film juga ?

Ah, intoleransi memang ada dimana-mana, termasuk dalam kerja-kerja kebudayaan!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s