Siapa Kuasai Pulau Sulawesi, Jokowi atau Prabowo?

Masa pemilihan umum sudah semakin dekat, tinggal satu bulan lebih. Seiring dengan semakin pendeknya waktu pemilu, pesan WhatsApp saya juga semakin sering menerima pesan tanya.

Bang siapa yang menang ?

Biasanya saya menjawab dengan bergurau, ‘kalau bukan Jokowi ya Prabowo’.

Banyak kawan saya yang mungkin marah dan memilih untuk tidak membalas gurauan saya itu. Namun, tidak sedikit pula yang masih bersemangat melanjutkan pertanyaan, dengan menyelipkan kata ‘serius’ diawal kalimat tanya mereka.

Kepada yang terus bertanya, saya langsung menjawab jujur bahwa saya tidak terlibat dalam survei nasional apapun. Jika saya melakukan survei, lebih banyak pada tingkatan lokal dan bukan survei nasional.

Saya sering menyarankan, kepada teman-teman saya yang masih penasaran untuk membaca laporan survei baik untuk kepentingan akademik maupun kepentingan politik praktis, untuk melihat hasil berbagai Lembaga survei yang sudah banyak beredar di media.

Namun, serbuan pertanyaan ternyata tidak berhenti. Khususnya dari mereka yang memiliki afiliasi partai politik ataupun tim sukses salah satu pasangan capres, pembicaraan kemudian mengarah pada berbagai tuduhan tentang Lembaga survei pesanan.

Kalau sudah seperti itu, biasanya saya akan menghindari pembicaraan.

Lalu mengalihkan topik, bahwa sebenarnya saya sudah tidak terlalu tertarik untuk tetap menjadi polster yang serius.  Layaknya Warren Mitofsky atau Joseph Waksberg, nenek moyang Lembaga jejak pendapat Amerika itu.

Saya kini lebih tertarik menekuni dunia musik layaknya Bob Dylan, seorang musisi sekaligus orang yang menurut saya juga adalah filsuf. Karyanya banyak, bahkan pernah dapat Nobel sastra pada tahun 2016.

‘Haduwh’,

Begitu ungkapan kesal yang sering saya dapatkan sebagai balasan pesan WhatsApp saya.

Membaca Trend Capres Lewat Google trends

Baiklah, demi sedikit menjawab rasa penasaran kawan-kawan saya, akhirnya saya putuskan membuat catatan ini. Setidaknya, menjadi gambaran besar bagaimana trend kedua kandidat calon presiden dengan menggunakan google trend.

Apakah ini presisi (akurat)?

Pengalaman saya, google trend cukup presisi (akurat) dalam konteks menyajikan potret makro. Karena sekali lagi, kalau anda politisi, partisan, anggota partai pendukung atau barisan relawan yang loyal, pasti anda punya survei sendiri yang tentu lebih detail.

Silahkan percayai itu, kalau masih tidak percaya lagi, silahkan imani apa yang anda percayai, seperti tebakan ubur-ubur atau mbah dukun.

Oke kita mulai.

Lewat google trend saya melakukan simulasi perbandingan dua kata kunci yakni nama dua calon presiden yakni Joko Widodo maupun Prabowo Subianto dengan waktu trend selama 90 hari terakhir, sampai dengan 3 maret 2019.

Pada Google trend, angka mewakili minat penelusuran berdasarkan poin tertinggi pada diagram untuk wilayah dan waktu tertentu. Nilai 100 menunjukkan istilah berada di puncak popularitas. Nilai 50 menunjukkan istilah dengan popularitas separuhnya. Nilai 0 menunjukkan tidak tersedia cukup data untuk istilah tersebut

Hasilnya bisa dilihat dibawah ini :

Data Google Trend menunjukan, bahwa sampai dengan 3 maret perbandingan presentasi pembicaraan antara Jokowi dan Prabowo berbanding 41% untuk Jokowi dan 29 % untuk Prabowo.

Nah, apakah itu bisa kita baca sebagai keterpilihan ?

Jawabanya, tidak.

Karena , sekali lagi ini hanyalah perbandigan pencarian dengan dua kata kunci. Apakah sikap pemilih positif ataupun tidak, sebenarnya juga tidak bisa terpotret dengan detail, perlu data metadiscourse untuk melihat wacana yang diperbincangkan, juga sekali lagi perlu survei untuk melihat detail keterpilihan masing-masing calon.

Kenapa anda tidak melakukan analisis metadiscourse itu ?

Emang kamu bayar saya, Date kepalanya inie!

Baik kita lanjutkan, sebagai potret makro, data ini cukup membantu menurut saya. Setidaknya menjadi gambaran bagaimana persaingan trend perbincangan dan pencarian akan masing-masing calon.

Nah, apa yang kita bisa baca dari trend nasional itu ?

Pertama, jika berdasarkan trend nasional ini akan nampak bahwa persaingan antara kandidat petahana dan penantang itu cukup keras.

Karena ketika kita lihat Jarak interval antara dua calon masih dekat yakni sekitar 12-13 %. Berdasarkan pengalaman saya untuk jarak interval seorang petahana, harusnya angka aman berada di 15-20 % dengan tingkat trend keterpilihan petahana mestinya sudah berada di atas 48%.

Apalagi, pilpres kali ini hanya diikuti oleh dua kontestan. Biasanya petahana akan mendapatkan turbulensi yang saya sebut badai 10% pada masa akhir pemilu.

Karena itu, jika tidak membangun jarak interval keterpilihan antara 15-20 %, ketika badai 10 % tiba, jika selisihnya hanya 2-3 % akan riskan bagi petahana untuk mengklaim kemenangan dengan segera.

Kedua, mari kita lihat fluktuasi Trend dari google. Pada dua kesempatan di pertengahan januari sampai dan awal februari Trend Prabowo, sebenarnya pernah melewati Jokowi, lihat grafis dibawah ini ;

sumber google trends : 3 maret 2019

Jadi, jika  ingin buat kesimpulan sementara, maka saya akan bilang kubu petahana harus berhati-hati, walau sedang unggul, ibarat traffic light kubu petahana sedang berada pada posisi lampu kuning.

Pulau Sulawesi, Pilih Jokowi atau Prabowo?

Sekarang mari kita baca demografi trend kampung halaman saya, di pulau Sulawesi. Bagaimana dinamika persaingan antara dua nama calon presiden pada momentum 90 hari terakhir.

Untuk pulau Sulawesi sendiri yang terdiri atas 6 Provinsi yakni Sulawesi Selatan, Tengah, Utara, Barat, Tenggara dan Gorontalo berikut gambaran data Google Trend untuk calon presiden Jokowi dan Prabowo :

Jika melihat tren kedua nama calon presiden, maka dapat terbaca dari enam provinsi, maka dua provinsi di kepulauan Sulawesi yakni Sulawesi tengah dan Sulawesi barat memiliki kecenderungan trend akan Prabowo.

Sementara Sulawesi Selatan, tenggara, utara dan Gorontalo trend Jokowi lebih kuat.

Catatan saya, yang harus diperhatikan adalah populasi demografi pemilih dari masing-masing provinsi. Perlu diingat,Sulawesi Selatan adalah provinsi dengan jumlah populasi pemilih terbesar yakni 5.972.161 juta pemilih.

Sebuah angka yang sangat signifikan dibandingkan dengan lima provinsi lain.

Karena itu, jika ‘djawa adalah koentji Indonesia’, maka sulsel adalah koentji pulau Sulawesi. Siapa yang menang di Sulawesi bagian Selatan itu, maka punya kans besar untuk jadi pemenang di pulau Sulawesi.

Tapi, jarak trend kedua calon di Sulsel khan hanya 6 %?

Nah itu dia menariknya, persaingan masih akan sangat ketat.

Lalu siapa yang menang? Prabowo atau Jokowi?

Tenang, masih satu bulan. Ngopi saja dulu, eh kerja saja dulu!!!

Satu tanggapan untuk “Siapa Kuasai Pulau Sulawesi, Jokowi atau Prabowo?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s