Bebaskan Robertus Robet, sekarang juga!

Bapak Presiden dan Pak Kapolri yang kami hormati,

Sebagai warga negara biasa republik ini, saya sangat terganggu setelah mengikuti kehebohan kawan-kawan saya di media sosial, soal dakwaan atas Robertus Robet.

Apa lagi, setelah membaca sejumlah media tentang penetapan Robet sebagai tersangka kasus ujaran kebencian, hanya karena lirik lagu pada acara kamisan itu.

Saya sudah menonton video lengkap bung Robertus Robet itu. Orang yang saya tidak kenal sama sekali. Termasuk juga melihat video klarifikasi yang dilakukan.

Pertanyaan saya, apa yang salah?

Perlu anda ketahui, bagi generasi yang tumbuh dan besar dengan aksi-aksi jalanan, lagu itu adalah lagu pengantar bagi banyak demonstrasi.  Hampir semua mahasiswa indonesia yang rajin turun ke jalan hafal lirik lagu itu.

Apakah bapak Presiden atau Bapak Kapolri, tidak pernah mendengar lagu itu?

Kalau anda belum pernah mendengarkan atau para penyidik kepolisian itu baru mendengar, hampir dipastikan anda jarang ikut demonstrasi atau minimal mengawal aksi demonstrasi pada masa lalu.

Karena entahlah, apakah mahasiswa sekarang masih menyanyikan lirik lagu yang sama. Saya tidak tahu, karena saya hampir tidak pernah lagi ikut dalam aksi demonstrasi dan sejak mahasiswa, saya benci melabelkan diri sebagai aktivis, hanya karena sering ikut demonstrasi.

Bedanya, kalau bung Robet dahulu mungkin sering demontrasi di Jakarta, liriknya ‘makan di warung tegal’, kami mahasiswa makassar, mengubahkan  ‘makan di warung coto’.

Lagu itu, seperti yang juga sudah disampaikan Robet saat orasi, sebenarnya hanyalah sebuah alarm, peringatan untuk kita semua.

Tentang cita- cita demokrasi yang sesungguhnya, yakni hadirnya supermasi sipil.

Bukan supermasi militer.

Mengapa ?

Benar kata Robet, karena bedil senjata tidak bisa diajak bicara. Sementara demokrasi mensyaratkan adu argumentasi. Gagasan bertemu dengan gagasan, bukan peluru bertemu dengan peluru.

Lagu itu, sebenarnya juga menyelipkan kritik bagi organisasi kemahasiswaan yang suka berpakaian ala militer dan punya mental militer, namun hidup di dalam kampus yang mensyaratkan tradisi kebebasan berpikir.

Bukan tradisi siap perintah, ala militer.

Bapak Presiden dan Pak Kapolri yang saya masih hormati.

Tidak ada salahnya menjadi seorang tentara, itu tugas mulia. Namun, menjadikan tentara aktif sebagai pejabat negara atau menempatkan mereka pada posisi kementerian sipil, sementara mereka punya tugas penting menjaga keamanan negara, itu sangat tidak profesional.

Begitu yang saya tangkap dari kritik bung Robertus Robet.

Lalu, kesalahanya dimana?

Bukankah salah satu cita-cita reformasi, sekaligus tuntutan reformasi adalah penghapusan dwi fungsi ABRI ?

Karena kita pernah punya trauma sejarah masa lalu, ketika orde baru berkuasa. Ketika tentara berkuasa, kadang susah membedakan mana orang yang berbicara tentang hak warga negara dan mana yang sedang melakukan teror atas negara.

Sebab itu, demokrasi tidak akan pernah kompatibel dengan militerisme seperti yang dikatakan oleh Robet.

“Karena, negara demokrasi dari apa yang saya pelajari, menekankan hak kebebasan individu warga negara. Sedangkan fasisme dan militerisme, menjadikan warga atau individu hanya sebagai alat untuk tujuan yang dicapai”.

Bapak Joko Widodo dan bapak Tito karnavian yang semoga masih kami percayai,

Robertus Robet adalah warga negara biasa, sama seperti kami-kami ini.

Seorang dosen yang sedang menggunakan hak sebagai warga negara.

Sekali lagi menurut saya, bung Robertus Robet hanya berusaha untuk memperingatkan dan melakukan kritik atas  rencana pemerintah yang katanya ‘akan menempatkan TNI aktif pada kementerian-kementerian sipil’.

Kritik itu hal yang biasa, sebagai monumen peringatan bagi kita semua. Demikian pula lirik lagu demonstarasi yang dinyanyikan oleh Robet.

Sebagai warga negara biasa, saya meminta  bapak  Presiden dan pak Kapolri tolong hentikan kasus ini sekarang juga.  Karena jika tidak, kami akan jadi percaya bahwa rezim pemerintahan ini benar-benar adalah rezim bebal yang tidak menerima sikap kritis warga negara.

Tolong, jangan buat kami jadi percaya anda punya mental yang sama dengan orde baru dengan paham militerisme itu. Sesuatu yang seumur hidup akan saya tolak dan lawan habis-habisan.

Karena kami percaya, saudara Joko Widodo adalah seorang sipil. Namun jika anda sama saja dengan mereka, kami orang-orang biasa, terpaksa akan kembali ke jalan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s