Kerudung Hitam Jacinda Ardern

‘Ini menjadi salah satu hari paling hitam bagi selandia baru’

Suara Jacinda Ardern, terdengar bergetar menahan luapan emosi.

Perempuan yang baru berumur 38 tahun, sekaligus perdana Menteri temuda dalam sejarah 150 tahun terbentuk selandia baru itu, berusaha dengan susah payah, menahan tangis untuk tidak pecah di depan keluarga para korban dan sorot kamera.

Dari layar kaca, saya melihat Jacinda Ardern memakai Kerudung hitam.

Kerudung yang rasanya telah berubah menjadi simbol protes atas kekejaman bagi imigran muslim yang terjadi di negara yang dimana Jacinda Ardern sendiri, adalah kepala pemerintahan.

Saya susah untuk menahan air mata. Apalagi, ketika menyaksikan pelukan tulus ibu perdana Menteri, ketika berjumpa saudara-saudara saya, perempuan-perempuan muslim yang nampak masih ketakutan atas peristiwa teror yang menimpa mereka.

Beberapa diantara perempuan-perempuan itu, mungkin merupakan istri dan keluarga dari korban aksi brutal Brenton Tarrant pada peristiwa jumat berdarah di Masjid Linwood dan Al Noor, kota Christchurch.

Peristiwa terorisme yang menewaskan 49 orang yang sedang melaksanakan solat jumat, membuat negara yang terkenal sebagai salah satu negara paling Makmur dan paling tenang  di dunia itu, menjadi gaduh dan sorot dunia.  

Dalam hati saya berdecak kagum, Jacinda Ardern sungguh  telah berhasil menunjukan dirinya sebagai  ibu bagi muslim selandia baru, bahkan bisa jadi ibu bagi warga muslim di seluruh dunia.

Padahal dari apa yang saya baca, Jacinda Ardern adalah seorang Agnostik.

Saya semakin terpesona, karena Jacinda Ardern bukan sekedar berhasil menunjukan empati dan simpati.

Perdana Menteri yang juga pimpinan partai buruh Selandia Baru itu, juga berjanji akan mengubah undang-undang yang mengatur kepemilikan senjata api di selandia baru.

Sekaligus memerintahkan intelijen Selandia Baru dan kepolisian setempat untuk memperketat pengawasan, termasuk di media sosial, mengenai aktivitas kelompok ekstrimis sayap kanan.

Perdana Menteri perempuan itu, bahkan dengan tegas menjamin kebebasan beribadah bagi kelompok muslim di negara yang mayoritas Kristen itu, yang hanya memiliki 1 persen jumlah penduduk muslim.

Hal yang lebih mengejutkan lagi, Jacinda Ardern tidak segan-segan menyerang senator Australia Fraser Anning yang menyalahkan imigran Muslim atas teror di Christchurch, sebagai orang yang sangat memalukan.

Xenophobia dan Virus Ideologi Kebencian

Saya tidak habis pikir, apa yang ada kepala orang-orang seperti Brenton Tarrant yang membantai manusia lain hanya karena kebencian akan warna kulit ataupun agama.

Apalagi, sejumlah media melansir setelah ditangkap, dari Brenton Tarrant ditemukan sebuah manifesto yang berjudul ‘The Great Replacement’ yang menjelaskan motivasi dibalik aksi brutal Brenton Tarrant yang ingin melakukan ‘genosida putih’.

Gaya berpikir rasisme dan xenophobia ala Brenton, kini serupa virus memang menjadi gejala diberbagai belahan dunia, dimana ada ketakutan dan ketidaksukaan kepada mereka yang dipandang asing dan berbeda.

Prasangka agama dan warna kulit, menjadi alasan untuk melakukan tindakan kekerasan kepada orang lain yang berbeda.

Teroris seperti Brenton Tarrant,sesunguhnya adalah korban dari ideologi kebencian, mereka yang terbuai mimpi  perang atas nama agama dan warna kulit.

Para pejuang supermasi mayoritas yang kejam.

Orang-orang yang berpikiran, seolah olah-olah Tuhan dan keadilan hanya bisa berkuasa ketika mereka membantai orang lain yang berbeda dengan mereka.

Kerudung Hitam Jacinda Ardern

Lewat kerudung hitam Jacinda Ardern, harusnya membuka mata dunia bahwa prasangka dan ideologi kebencian, masih menjadi pekerjaan besar yang harus di lawan oleh masyarakat dunia.

Kita masih harus menghadapi manusia-manusia seperti Brenton Tarrant. Mereka yang tidak percaya, bahwa prinsip-prinsip kemanusiaan, kesetaraan, menjadi kunci bagi masa depan warga dunia.

Orang-orang gila yang terpenjara dogma dan keyakinan yang utopis, tentang surga yang dicapai dengan jalan kekerasan dan darah.

Virus  rasisme masih viral dan  mengancam sesama manusia. Sesuatu yang kini menjadi ideologi yang menyebar dikepala banyak orang, seiring dengan semakin mudahnya akses media sosial.

Setiap melihat aksi kekerasan dan kekejaman terorisme, seperti yang dilakukan oleh orang-orang seperti Brenton Tarrant, saya juga selalu teringat wajah teduh guru saya.

Mengenang pesan bijaknya; ‘banyak orang yang mengimani sesuatu yang sebenarnya mereka tidak pahami dan mengerti’.

Padahal, iman itu dasarnya percaya, sementara dasar untuk bisa percaya adalah akal sehat.

Lantas, apa alasan manusia seperti Brenton Tarrant, para teroris pejuang agama, serta kelompok rasis,  melakukan pembantaian kepada sesama manusia. Agama? politik warna kulitkah?

Atau akibat kebodohan, karena otak yang rusak!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s