Berdebat, Survei Litbang Kompas

“Mas, kalau begini Jokowi-Amin, benar-benar dalam situasi yang tidak aman”

“Iya, Prabowo-Sandi melaju nih”

Mendengar suara percakapan dua orang itu, memaksa saya untuk menoleh.

Berhenti sejenak, dari keasyikan saya mengaduk kopi yang baru saja datang.

Karena belum terlalu sore, kafe yang hanya berjarak dua tembok dari kompleks perkantoran Kompas Gramedia Grup, tempat saya biasa nongkrong itu, belum terlalu ramai.

Saya masih bisa mendengar dengan jelas,percakapan dua orang di meja depan saya yang hanya berjarak kurang dari satu langkah kaki.

Dua orang Lelaki yang nampak sedang asyik berdiskusi. Satu memakai kemeja putih dan yang kedua, pakai kaos hitam.

Rupa-rupanya, mereka sedang membahas hasil survei terbaru litbang kompas. Sambil sama-sama  memperhatikan layar Ipad mini di atas meja kafe.

“Jaraknya hanya 11,8 persen ”

Kata lelaki berkemeja putih, sambil memainkan jarinya di layar Ipad.

“Kalau menurut sampeyan, apa yang buat suara Jokowi-Amin semakin tergerus?

Timpal lelaki berkaos hitam, dengan wajah ekspresi penuh tanya.

“Nah, coba baca tiga penjelasan Bang Bestian”, balas lelaki berkemeja putih.

Kali ini, sambil mengarahkan tanganya ke layar ipad dan mulai membaca entah berita atau laporan kantor mereka, saya tidak tahu pasti.

“Pertama, segmen ekonomi kelas menengah berpendidikan semakin terkonsolidasi mendukung Prabowo-sandi”.

“Kedua, dukungan Prabowo sandi juga terjadi dari lapisan ekonomi kelas bawah dari 28,9 persen menjadi 32,5 persen”.

“Ketiga, hal yang paling menariknya, menurut Bang Best, soal faktor Loyalitas dan militansi anggota partai pengusung Prabowo-Sandi yang total bekerja”.

Menunjukkan ekspresi kurang puas.

Lelaki kaos hitam yang saya duga juga adalah wartawan kompas atau setidaknya bagian dari group media milik Jacob Utama itu, langsung memotong pembicaraan.

Kali ini, dengan pertanyaan yang cukup pamungkas.  

“Berapa persen sih kelas menengah kita mas” ?

“Kedua, jika partai dari kubu 02 memang kerja dengan militan, lantas apakah bisa kita berkesimpulan partai koalisi 01 tidak bekerja”?

Sekak, si kemaja putih mulai gagap!

Karena dari tadi gelas kopi saya, yang berisi mocha java belum sempat saya cicipi.  Akhirnya saya memilih kembali fokus pada gelas kopi.

Sambil tentu saja, menyalakan korek dan membakar rokok.

Survei Kompas dan Google Trend

Awal bulan lalu, sebelum Litbang Kompas merilis hasil survei, saya sempat membuat sebuah catatan ;

https://rahmadarsyad.com/2019/03/06/siapa-kuasai-pulau-sulawesi-jokowi-atau-prabowo/

Pada bagian awal tulisan itu, berdasarkan apa yang saya baca lewat google trend untuk potret makro dua kandidat capres, jarak perbincangan antara dua kandidat sampai dengan awal maret, secara nasional memang hanya terpaut dengan interval sekitar 12 persen.

Potret Google Trend, ternyata tidak jauh berbeda dengan hasil survei litbang kompas yang menyampaikan jarak elektabilitas petahana dan penantang ada diangka 11,8 persen.

Berasarkan gambaran Google Trend tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa petahana harus berhati-hati. Karena layaknya, traffic light posisi petahana sedang berada di lampu kuning.

Kesimpulan yang kurang lebih tidak jauh berbeda, dengan hasil simpulan Litbang Kompas.

Debat Survei Kompas

Saya sebenarnya, tertarik menjawab pertanyaan dari lelaki berkaos hitam di kafe itu. Soal pertanyaan tentang kelompok kelas mengah. Kedua, soal kerja mesin politik pasangan calon 01 dan 02.

Karena takut tidak sopan, apalagi saya tidak mengenal mereka berdua, akhirnya saya lebih memilih diam dan menuliskan pendapat saya.

Pertama, pada tahun 2017, Bank Dunia melansir data ‘satu dari lima orang indonesia adalah kelas menengah’. Menurut Bank Dunia, presentasi kelas menangah indonesia berkisar 22 %.

Sementara mereka yang berada di antara rentan miskin dan menengah ada diangka 45 persen.

Nah, jika berkaca pada data bank dunia tersebut, artinya jumlah kelas menengah memang cukup signifikan. Berada pada kisaran angka 42 juta orang dari total pemilih indonesia yang menurut data KPU berjumlah sekitar 192 juta.

Sekarang sebagai referensi, mari kita buka hasil akhir pada pemilihan presiden 2014 yang lalu.  Suara Joko Widodo- Jusuf Kalla berjumlah 70.997.85 suara atau setara dengan 53,15 persen.

Sementara Prabowo- Hatta berjumlah 62.576.444 suara (46,85 persen).

Kala itu, jarak antara Jokowi dan Prabowo terpaut 8.421.389 atau 6-7 %.

Kesimpulan yang perlu dicatat, sekalipun misalnya Prabowo-Sandi atau Jokowi- Amin, mengambil seluruh suara kelas menengah indonesia dengan jumlah 42 Juta orang itu, belum cukup memenangkan kontestasi pemilihan Presiden.

Kedua, soal perbandingan kerja mesin partai 01 dan 02. Berdasarkan gambaran yang saya lihat pada banyak daerah, memang mesin partai 02 bekerja cukup optimal untuk pemilihan presiden kali.

Apalagi bagi partai Gerindra, sebagai partai yang menjadi motor koalisi Prabowo-Sandi mereka memang terlihat habis-habisan di lapangan. Menggerakkan seluruh sumberdaya untuk menang.

Wajar saja,  karena memang Prabowo-Sandi yang identik dengan gerindra-gerindra.

Patut diakui pula, seiring dengan pilpres serentak dengan pemilihan legislative,  Gerindra menurut saya adalah partai yang paling besar mendapatkan limpahan efek elektoral.

Sementara, pada kubu 01 mesin politik partai pengusung nampaknya tidak bergerak banyak. Joko Widodo, kembali menjadikan barisan relawan diluar struktur partai sebagai mesin politiknya.

Format yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pilpres 2014, dimana mayoritas kekuatan Jokowi kala itu, bertumpu pada barisan relawan dan bukan partai politik pengusung mereka.

Namun, perbedaanya pada pilpres kali ini barisan akar rumput Jokowi-Amin tidak lagi penuh nuasa spontanitas, gotong royong dan kerakyataan. Sedikit lebih elit dan format tampilan kampanye yang cenderung formalistik.

Berbeda dengan kubu Prabowo yang penuh dengan militansi, dari barisan emak-emak sampai anak-anak milenial.

Apalagi, kali ini Prabowo punya Sandi yang terus berlari.

Tapi, apakah waktu 25 hari cukup mengejar petahana ?

Ah, silahkan berdebat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s