Iksan Skuter dan Lirik-Lirik Politik

Ilustrasi Iksan SKuter. Ilustrator: Gilas sumber : Jatim Net

Aku cari pemimpin yang naiknya bis kota
Kami cari pemimpin yang hidup sederhana

Bukan cari pemimpin yang lupakan janjinya
Apakah ada pemimpin yang seperti kami idam-idamkan

(lirik lagu Cari Pemimpin, Iksan Skuter)

Saya mengenal , musisi band indie ini dari istri saya.

“Pa, coba dengar Iksan Skuter, lagu-lagu yang di bawakan itu Folk rock, pasti kita suka”.

Begitu promosi yang disampaikan kepada saya beberapa pekan lalu, sampai akhirnya saya mulai mendengarkan lagu-lagu ciptaan dari musisi kelahiran Blora Jawa Timur itu.

“Keren” !!!

Begitu bisik saya dalam hati, ketika pertama mendengar lagu Iksan Skuter yang berjudul ‘bingung’ yang beberapa bait langsung membuat saya tertegun;

Kiri dikira komunis
kanan dicap kapitalis
keras dikatai fasis
tengah dinilai tak ideologis

Makin hari makin susah saja
Menjadi manusia yang manusia
Sepertinya menjadi manusia
Adalah masalah buat manusia

Genre musik  Iksan skuter memang adalah gaya khas dari musik Folk Rock. Begitu kesimpulan saya, setelah sepekan mendengarkan hampir semua lagu karya Iksan, lewat kanal Youtobe.

Gendre Folk Rock dari apa yang pernah saya baca,  memang pernah populer di Amerika pada tahun 1960-an. Sebuah genre musik yang menggabungkan unsur musik rakyat dan musik rock.

Sayangnya, pengetahuan saya soal musik amat sangat terbatas.

Jadi saya cukup tau diri untuk tidak membahas soal genre musik dari seniman lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya itu.

Saya lebih tertarik bercerita soal Iksan sekuter dan lirik-lirik politik.

Iksan Skuter, Iwan Fals Generasi Milenial

Bagi saya, Iksan Skuter adalah perwajahan Iwan fals dalam wajah generasi milenial. Ada dua alasan mengapa saya sampai pada kesimpulan itu.

Pertama, lirik lagu Iksan skuter dipenuhi dengan berbagai kritik sosial, terutama soal politik dan lingkungan.  Sangat punya kemiripan dengan nyanyian suara protes iwan fals pada masa lalu.

Tidak percaya ?

Degar lagu Iksan yang judulnya “Partai Anjing”, “Nyalakan tanda bahaya” atau “Cari Pemimpin”. Semua lagu itu, mengingatkan saya pada pesan-pesan kritik khas bang Iwan, seperti dalam lagu “Bongkar”, “Surat Untuk Wakil Rakyat” atau “Manusia ½ dewa”.

Kedua, coba dengarkan lagu Iksan sekuter yang berjudul “lagu petani” dan dengar  “Balada Orang-Orang Pedalaman”, karya bang Iwan.  

Dua-duanya menurut saya, punya cerita dan tema yang sama. Tentang orang-orang kota yang datang ke desa dan melakukan eksploitasi atas alam dan kehidupan warga desa.

Terlepas dari gaya yang sama, Iksan dan Iwan Fals adalah dua musisi dengan latar historis yang berbeda. Bang Iwan yang lahir pada tahun 1960-an, sedangkan iksan adalah generasi kelahiran 1980-an sama seperti saya.

Mereka berdua, memang sama-sama pernah merasakan ketika orde baru berkuasa. Sama-sama punya kepekaan menangkap realitas sosial, lalu menghadirkan dalam lirik yang penuh kritik.

Namun, perbedaan yang paling mencolok dari lirik-lirik Bang Iwan dan Iksan, menurut saya, ada pada pilihan diksi yang mereka gunakan. Bang Iwan, lebih cenderung memiliki pilihan kata yang langsung bicara akan realitas.

Walau sesekali bermain metafora seperti lagu Guru Oemar Bakri.

Sementara Iksan selain mengungkapkan kritik akan realitas sosial, ibarat Jhon B.Thompson, penyanyi solo yang juga gitaris itu  juga banyak bicara soal narasi ideologi. Sebuah hal yang menurut saya lahir dari pergumulan antara realitas sosial dan buku bancaan yang dibaca oleh Iksan.

Musisi dan Lirik Politik

Saya kadang bosan mendengarkan, orang-orang kampus yang membahas politik seolah-olah hanya melulu soal pemilu, kekuasaan ataupun kelembagaan institusi politik.

Jarang ada yang menceritakan politik dalam konteks keseharian. Politik sebagai sebuah peristiwa vernacular dalam ruang kehidupan sehari-hari setiap orang atau warga negara, seperti pandangan Will Kymlicka.

Begitu pula, kebiasaan buruk para akademisi yang suka membuat klasifikasi yang kaku tentang siapa yang disebut aktor politik, seolah-olah kategori aktor politik hanya berputar pada politisi, media ataupun pemuka opini.

Para musisi, bagi sebahagian orang-orang kampus itu, hanya dipandang sebagai penghibur yang kurang pantas bicara soal politik, apalagi melakukan kritik sosial.

Mereka kurang sadar, bahwa banyak peristiwa politik besar sangat dipengaruhi oleh lirik-lirik para musikus.

Dengar karya John Lennon dengan Imagine atau Give Peace a Chance yang menjadi himne anti perang hampir di seluruh belahan dunia. Pahami juga lirik lagu The Beatles yang berjudul Revolution.  

Kalau masih kurang, silahkan nikmati The  Doors dengan Unknow Soldiers.

Lirik-lirik lagu itu, menurut saya semua keren, berkualitas, punya perbincangan politik dan kritik sosial yang dalam.

Bahkan kadang lebih keren dari apa yang dibicarakan di ruang-ruang kelas Universitas, serta tentu lebih berkualitas dari para politisi kita di Gedung Senayan.

Panjang umur Iksan Skuter, lirik lagu kamu keren!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s