‘Rocky Gerung telah Mati’

“Jika anda ingin mati lebih cepat, sering-sering muncul di televisi”

Begitu pesan salah satu guru saya di kampus dulu. Mati dalam penjelasan guru saya itu, bukan berarti tidak  bernyawa.

Tapi guru saya, sedang bercerita soal metafora di balik kematian  para intelektual, pemikir ataupun seorang scholar akibat ‘kehilangan kedalaman pikiran’.

Semuanya, bermula dari godaan hasrat popularitas instan yang ditawarkan oleh media seperti televisi.

Mengapa?

Karena televisi punya batas durasi, agenda media dan yang paling utama punya ideologi yang bernama ‘rating’.

Akibat durasi, pikiran anda terpaksa jadi pendek, dangkal, terpotong sana-sini.

Tidak ada tempat untuk kedalaman pikiran, karena yang terpenting adalah kegaduhan dan kehebohan, itu yang dibutuhkan oleh sebuah tontonan televisi.

Termasuk acara diskusi dan perdebatan yang menghadirkan para pemikir, pengamat atau entah apapun nama dan gelar mereka yang di berikan oleh kru televisi.

Soal kualitas pikiran atau gagasan, apalagi kepentingan akan pendidikan publik, itu urusan belakangan.

Yang terpenting, bisa menghadirkan kontroversi biar menarik perhatian orang banyak, lalu kanal media sosial televisi itu jadi viral, punya rating yang tinggi, di klik dan subscribe.

Artinya iklan dan uang yang mengalir.

Demikian pula sang pemikir yang merasa dirinya kontroversial, semakin asyik menikmati popularitas, apalagi tiba-tiba punya banyak follower, lalu mulai berlagak seperti selebriti sibuk endorsement sana-sini.

Akhirnya, mulai lupa berpikir panjang dan mendalam, hanya sibuk cari kontroversi kemana-mana untuk terus punya popularitas. Lalu berakhir tragis, berhenti berpikir, mati jadi barisan followers.

Seperti cerita Rocky Gerung hari ini. Pemikir ataupun filsuf yang telah mati menurut saya.

Rokcy telah terbunuh oleh hasrat selebriti yang menggerogoti, seiring dengan popularitas yang dibentuk oleh televisi dan media sosial.

Rokcy lupa, kamera dan penonton itu punya sihir yang kadang buat orang lupa diri. Begitu juga media sosial, netizen yang banyak, apalagi mereka suka bersorak, kadang bisa membuat gila, karena membawa penyakit narsisme.

Seperti tadi malam, saya benar-benar ingin muntah ketika menonton acara Indonesia Lawyer Club (ILC), Rocky tanpa malu-malu, protes mengapa televisi lain tidak mengundang untuk bicara?

“Hanya ILC saja yang  memberikan ruang”, begitu kata Rocky Gerung mengadu layaknya anak kecil.

Hasrat untuk populer, narsisme, kesenangan untuk mendapatkan tepuk tangan dan sorak sorai, layaknya lelaki sirkus (circus man) telah menjadi penyakit kanker ganas yang membunuh seorang Rocky.

Saya juga melihat, Rocky pelan-pelan begitu menikmati jargon simbolik yang kini dilekatkan oleh netizen untuk Rocky, No rocky, No party!

Layaknya para filsuf hedonis yang menyamakan segala yang baik, pasti menyenangkan, Rocky bergerak dari televisi, menuju selebriti yang menjadi endorsement kepentingan politik.

Saya kini tidak lagi mendengar dan menonton gagasan yang hidup dari seorang Rocky Gerung.

Kecuali satu pesan repetisi yang berulang tentang ‘Presiden Dungu’. Sambil sibuk terus memuji-muji barisan penantang secara berlebihan, layaknya seorang selebriti yang sedang melakukan endorsement produk.

Melalui jargon ‘akal sehat’ yang sebenarnya adalah istilah klasik dalam tema perbincangan filsuf masa lalu, Rocky berusaha melakukan hipnotis kepada khalayak. Bahwa apa yang disampaikan adalah selalu benar, mereka yang berbeda adalah orang dungu yang tidak berakal sehat.

Bermodalkan perisai gaya filsafat linguistik yang dimiliki, Rokcy bertarung sana-sini. Seolah-olah bicara tentang ‘akal sehat atau hal yang masuk akal’. Padahal, bisa jadi apa yang disampaikan kalimat retoris semata, sekedar akal-akalan yang seolah-olah masuk akal.

Misalnya saja, soal fokus kritik Rocky selama ini akan pergantian rezim pemerintahan. Seolah-olah, Rocky ingin menegaskan, tugas utama seorang filsuf politik akal sehat, adalah sekedar melakukan pergantian atas rezim pemerintahan.

Demikian pula kepada penganut jamaah filsafat politik akal sehat yang menjadikan Rocky sebagai imam besar, tidak lupa
Rocky selalu berkhotbah, salah satu bagian dari iman mereka adalah ganti Jokowi sebagai Presiden dan pilih Prabowo-Sandi 2019.

Ini tentu adalah sebuah dalil yang lemah, apakah Rocky tidak pernah membaca pandangan Karl Popper, bahwa tugas para filsuf politik, bukan sekedar berpikir siapa yang harus memerintah, tapi how can we minimize mis rule?

Bagaimana kita bisa meminimalisir pemerintahan yang jelek. Karena tidak ada pemerintahan yang sempurna.

Juga tidak ada jaminan bahwa Revolusi malam ini, pasti akan melahirkan sebuah tatanan yang lebih baik esok pagi.

Seperti Karl Poper, saya percaya ide yang mungkin tidak populis bagi orang-orang seperti Rocky, tentang piecemeal social engineering.

Sebuah perubahan sistematis dalam kehidupan sosial politik, secara kecil-kecilan, sedikit demi sedikit, tapi punya metodologi dan arah yang jelas adalah hal yang lebih baik dibandingkan sekedar logika permukaan dan selebrasi linguistik ala Rocky Gerung.

Yang mungkin  selalu menanti tepuk tangan, layaknya seorang lelaki sirkus.

Karena itu berarti, pikiran pemikir telah mati.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…

Iklan

6 tanggapan untuk “‘Rocky Gerung telah Mati’

  1. Mungkin secara teoritik ada benarnya tulisan ini tapi faktanya, saya dan jutaan orang menjadi paham arti kata akal sehat dalam menganalisis serta mengambil langkah teknis dalam kehidupan sosial politik kita
    Pandangan sejenis tulisan ini hanya datang dari para pemuja rezim dan para pencemburu raihan popularitas RG

    Suka

  2. Artikel yg sangat menarik dan menambah wawasan berfikir. Saya ingin berpendapat bahwa menurut sy RG jg sedang berusaha untuk meminimalisir miss rule pd pemerintahan siapapun hal ini terlihat pada statemen ybs jika PAS menjabat nnti maka RG akan mengkritik beberapa menit setelah PAS dilantik. Saat ini, fokusnya mungkin ad/ mengganti pemimpin krn RG merasa u/ memperbaiki tdk ada cara lain selain mengganti.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s