Berbagi Kebohongan, Berbagi Kebodohan

Padahal, ini bulan Ramadhan. Masih banyak saja, para pendukung Capres dan Cawapres yang belum juga bisa Move On dari musim kampanye yang harusnya sudah lewat sejak pemilu selesai.

Kini seharusnya, kita tinggal menanti hasil akhir dari proses pemilu yang telah selesai. Kalaupun ada proses yang dinilai dan di pandang salah, curang, silahkan menempuh jalur yang tersedia sesuai dengan mekanisme yang ada.

Bukan dengan terus menyebarkan kebencian, kemarahan, apalagi terus berbagi berita kebohongan. Apalagi berharap kebohongan itu, akan menjadi kompor yang menyala lalu menyulut kemarahan publik.

Soal yang terakhir ini, nampaknya benar-benar parah. Saking parahnya, saya lantas memutuskan keluar dari beberapa group yang menurut saya banyak dari anggota grup WhatsApp itu, suka berbagi berita bohong.

Entah karena mereka tidak tau atau seolah-olah tidak tau, bahwa berita yang mereka rajin bagikan itu adalah berita bohong.

Saya juga tidak mengerti.

Untung, guru saya pernah mengajarkan “jangan pernah kondisi tidak nyaman, dari luar dirimu memengaruhi dalam diri. Kalaupun itu terlanjur masuk dalam diri, cukup berhenti sampai di kepala, paling jauh di batang leher saja”.

Pesan guru saya itu selalu saya pegang, biar tidak ikut menjadi kerumunan yang mudah terbakar. Hanya karena berita-berita yang tidak punya sumber yang jelas.

Karena jujur saya belum mampu, maka akhirnya lebih baik menghindar. Memilih keluar dari group-group yang tidak berfaedah itu, dari orang-orang yang suka menjadi kompor.

Saya terkadang suka tertawa sendiri, soal kebiasaan ‘berbagi kebohongan’ yang kini menjadi hobi sebahagian orang. Misalnya, hal yang paling heboh saat ini. soal pengumuman penetapan hasil pemilu 2019 pada 22 Mei yang dikaitkan dengan hari ulang tahun PKI.

‘Bodoh kok dibagi’, begitu refleks saya ketika membaca postingan  di sebuah group.

Karena menurut saya, saat Henk Sneevliet dan sejumlah orang mendirikan PKI di tahun 1914 yang artinya 105 tahun lalu, mereka tidak pernah menduga bahwa pada 22 Mei 2019 akan dilaksanakan Pengumuman pemilihan presiden indonesia yang di ikuti oleh Jokowi dan Prabowo.

Bahkan jangankan meramal pemilu 2019, indonesia merdeka saja pada 17 Agustus 1945 belum mereka bayangkan. Tanggal pendirian  PKI dalam catatan sejarah juga jatuh pada 23 Mei 1914, lebih sehari dari berita yang disebarkan.

Begitu juga soal tulisan DN Aidit, saya yakin Aidit tidak pernah menduga bahwa pengumuman Pilpres indonesia tahun 2019 akan dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2019.

Memangnya mantan pemimpin PKI itu, punya time travel seperti Avengers? Halah, ngawur!

Berbagi Kebohongan, Berbagi Kebodohan

Melihat kondisi yang makin lama, makin parah ini. Saya jadi ingat, ketika mempertahankan tesis 10 tahun lalu di hadapan penguji. Waktu itu, tesis saya berjudul; ‘Jejaring Sosial, dari Jejaring Pertemanan Menuju Jejaring Perlawanan’.

Salah seorang penguji saya bertanya, seperti ini;

‘Rahmad apakah anda yakin jejaring sosial akan efektif dalam mengalang wacana perlawanan publik’

Saya langsung menjawab mantap, ‘Yakin’.

Terbukti gerakan koin untuk prita, kasus Cicak Vs Buaya, membuktikan bagaimana pengaruh jejaring sosial seperti Facebook mampu membangun solidaritas publik, lantas menghadirkan perlawanan atas ketidakadilan.

Walaupun, ketika jawaban penuh keyakinan itu saya kemukakan di depan penguji. Beberapa diantara mereka tertawa, lalu dengan jumawa bilang, kok tesis kayak begini yah.

‘Facebook atau jejaring sosial seperti twitter itu, mainan anak SMP’.

Jawaban yang kala itu, sempat membuat darah saya rasanya berdesir naik menuju kepala, lalu perlahan tapi pasti langsung membentuk kepalan tangan yang sempurna.

Untunglah, mata saya sempat bertemu dengan mata perempuan yang baru saya nikahi beberapa bulan kala itu.

Lalu dengan mata yang tajam dan kepala yang menggeleng, dia memberi isyarat untuk saya agar segera berhenti dari ledakan itu.

Jika boleh kembali pada masa itu. Dan saya  punya time travel dan mampu menjelajahi waktu layaknya Iron Man atau Ant-Man dan anggota  Avengers yang lain.

Saya ingin melakukan beberapa revisi dari pandangan saya dahulu.

Terutama soal keyakinan saya, bahwa jejaring sosial adalah instrumen ampuh untuk membangun kekuatan penyeimbang bagi hegemoni elit politik yang mengusai modal dan media.

Memang benar, jejaring sosial bisa menjadi wacana tanding bagi dominasi tersebut. Namun, harusnya saya juga menambahkan, bahwa jejaring sosial juga bisa dimanfaatkan oleh para pembajak demokrasi.

Mereka elit politik dan barisan yang kalah, kerap kali menjadikan media sosial sebagai sarana berbagi kebohongan dan menyebarkan kebodohan di tengah publik.

Lalu berharap membentuk titik api kemarahan di tengah publik yang masih minim literasi. Untuk membajak proses demokrasi, lalu melahirkan delegitimasi atas proses politik yang sah.

Elit-elit politik seperti ini, tidak hendak membangun demokrasi dengan kritik dan akal sehat, justru ingin membunuh demokrasi dengan meracuni nalar publik dengan  kebodohan dan suntikan informasi kebohongan.

Demi hasrat gila kuasa mereka sendiri.

Yang sayangnya, kayu bakar dari elit-elit politik itu adalah rakyat . Mereka yang akhirnya jadi korban akibat bensin dan nyala dari korek dendam dan hasutan dari elit-elit yang tidak bertangung jawab.

Ah, akhirnya kita memang kita butuh time travel, seperti Avengers, untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita pada masa lalu.

Semoga Ramadhan menjadi time travel itu. Untuk mengakhiri game capres yang melelahkan ini.

Berhentilah kebohongan dan hilanglah kebodohan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s