Politik itu Kejam Jenderal

“ Politik jauh lebih rumit, dari sekedar perang”.

Begitu kira-kira kesimpulan yang bisa saya petik dari episode akhir Game of Thrones.

Bagaimana tidak, melihat perjuangan panjang Daenerys Targaryen atau Mother of Dragons yang penuh luka itu, tidak tega rasanya harus berakhir dengan tragis dan terlalu simpel, di bunuh oleh Jon Snow.

Padahal,  Daenerys Targaryen baru saja menyelesaikan mimpi panjang yang dilalui penuh penderitaan, menghancurkan King’s Landing berkeping-keping bersama naga yang menjadi senjata pamungkas sang ratu.

Saya mengikuti dengan pilu, bagaimana kegigihan sang ratu jagoan perang. Mulai dari ketika, Daenerys dijual oleh saudaranya Viserys dan Illyrio Mopatis untuk menikahi Khal Drogo, seorang panglima perang Dothraki, dengan imbalan pasukan untuk Viserys.

Membayangkan harus di jual oleh kakak sendiri itu adalah penderitaan. Apalagi, harus menjalani hidup bersama suku Dothraki yang digambarkan sebagai suku  barbar yang terkenal kejam dan tidak mengenal prinsip-prinsip kemanusian.

Namun dengan ketabahan, Daenerys Targaryen melalui itu semua. Belajar mencintai Khal Drogo sampai suami yang mulai dicintai itu, akhirnya terbunuh karena luka infeksi sementara Daenerys sedang mengandung anak.

Parahnya lagi, sang anak yang dikandung juga harus mengikuti jejak ayahnya. Terbunuh sebelum sempat dilahirkan.

Apa lebih tragis dari seorang perempuan yang kehilangan anak dan suami?

Namun, tidak seperti perempuan biasa yang patah hati, kekasih pergi lalu ingin bunuh diri.

Sang ratu yang perkasa, justru bangkit meneruskan cita-cita besar hidup, melanjutkan tahta Targaryen.

Perjalanan panjang dan pedih di mulai, Daenerys mesti masuk ke dalam tumpukan api untuk menetaskan sang Naga yang akhirnya menjadi pelindung dan senjata pamungkas.

Daenerys  kemudian melalui berbagai kisah, bertemu dengan pedagang culas, membantai para tuan yang menindas para budak, sampai harus melalui berbagai perang  untuk menumbangkan Cersei Lannister.

Namun, setelah semua perjalanan itu dilalui dengan perang, darah, api dan Naga.

Juga cita-cita untuk membebaskan manusia dari lingkaran penindasan.

Akhirnya sang ratu mesti mati dengan begitu mudah, terbunuh oleh orang dekat yang dicintai, Jon Snow!

Politik itu Kejam Jenderal

Politik itu memang kejam jenderal !

Begitu kira-kira pelajaran utama dari kisah Game of Thrones dan akhir cerita Daenerys Targaryen.

Bagaimana tidak, bukan mereka yang paling kuat.

Tidak juga soal jenderal jagoan perang atau mereka yang berdarah-darah di medan juang,  apalagi sekedar punya Naga yang bisa membakar apa saja yang akhirnya mendapatkan kekuasaan.

Untuk berkuasa, singkatnya tidak melulu soal kemampuan penaklukan.

Apalagi, sekedar jago main tebas.

Namun, seperti kata Tyrion Lannister sebelum akhirnya menunjuk  Brandon Stark sebagai raja; ‘kita butuh orang yang punya cerita hebat, juga mereka yang mampu menjaga  kenangan umat manusia yang masih hidup’

Mereka yang bukan bicara sekedar, ‘perang atau penaklukan’.

Dan jika boleh saya tambahkan, selain soal cerita hebat, politik juga soal siapa yang punya kemampuan dan  visi kedepan, serta yang utama bukan mereka yang terlalu berambisi kekuasan, apalagi sekedar meneruskan dinasti keturunan masa lalu.

Itulah kenapa Jokowi menang, eh salah Brandon Stark akhirnya dipilih menjadi raja.

Selamat malam, jika  Game of Thrones sudah berakhir tadi malam,

Avengers endgame juga sudah tayang, masak drama pilpres ini masih berlanjut ?  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s