Pesan Damai, Kepergian Ibu Ani Yudhoyono

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).

Setiap manusia, akan berpulang. Itu janji Tuhan, sekalipun manusia berjuang dengan seluruh daya dan upaya. Pada akhirnya, kehendak Tuhan tetap berkuasa atas setiap mahluk.

Termasuk pada 1 Juni yang lalu, bangsa ini harus merelakan kepergian seorang Ani Yudhoyono.

Ada sebuah pepatah lama, ‘gajah mati meninggalkan gading. Manusia pergi meninggalkan nama’.

Almarhumah,  Hj. Kristiani Herrawati, tentu bukan sosok  yang sempurna tanpa cela, beliau adalah manusia biasa.

Namun nama dan jejak ibu Ani, akan dikenang oleh sejarah panjang bangsa ini. Sebagai sosok ibu negara, putri prajurit, serta ibu bagi sebuah keluarga yang jadi panutan bagi banyak keluarga di negara ini.

Seorang Ani Yudhoyono, menurut saya adalah sosok yang berjasa penting bagi perjalanan sejarah negara dan bangsa ini, bahkan sampai pada akhirnya menghadap hariban Ilahi, peran ibu Ani masih begitu terasa.

Anak-anak bangsa ini, menyaksikan bagaimana peristiwa pulangnya Ani Yudhoyono, telah membuat elit-elit politik yang semula bersitegang, bersatu di tempat peristirahatan terakhir Ibu Ani, di  taman makam pahlawan kalibata.

Lewat kepergian Ani Yudhoyono, berbagai kabar tentang api kemarahan yang menjalar beberapa hari pasca penetapan pilpres, langsung mereda berganti dengan cerita cinta seorang Ani Yudhoyono dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Tuhan, seolah memberi tanda bagi bangsa ini, dengan memilih Ani Yudhoyono sebagai juru damai dari ketegangan politik yang sempat memuncak, lewat berbagai episode perjuangan seorang Ibu Ani Yudhoyono dan Susilo Bambang Yudhoyono dalam menghadapi penyakit kanker darah yang memaksa untuk istirahat.

Lewat kepergian ibu Ani dan kesetian SBY mendampingi selama perawatan. Elit-elit politik dan rakyat negara ini dibuat terhentak, bahwa ada yang lebih penting selain terus membicarakan kekuasaan.

Yakni, cinta dan kesetian. Karena disanalah letak kemanusiaan itu berada.

Bahwa hidup bukan melulu soal kekuasaan, apalagi sekedar pemilihan presiden. Layaknya seorang capres yang begitu tega, membicarakan pilihan politik di tengah orang yang sedang berduka.

Hidup dalam Pandangan Ani Yudhoyono

Setelah mendengar kepergian ibu Ani, saya kembali membaca buku Ani Yudhoyono kepak sayap putri prajurit yang ditulis Alberthiene Endah. Menekuni kembali jejak kehidupan seorang Ani Yudhoyono.

Maklum, saya bukan orang yang pernah bersentuhan langsung dengan ibu Ani.

Saya sangat menyukai bagian awal buku itu, ketika almarhumah bercerita soal cara menghargai kehidupan.

“Aku menghargai kehidupan, seperti air yang meresap di dalam tanah. Aku melewati setiap fase dalam hidupku, seperti melodi yang berkejaran riang diatas syair indah”.

Petikan itu, adalah petikan penuh pelajaran sekaligus jejak penanda dari sudut pandang dunia seorang Ani Yudhoyono.

Sosok yang secara semiotik bisa terbaca sebagai manusia yang menghargai hidup, layaknya air yang memberikan kehidupan bagi tanah dan tanah yang memberikan kehidupan bagi manusia.

Lawat deretan kalimat itu, kita menemukan gambaran dari anak manusia yang memaknai hidup sebagai sebuah musik riang dan penuh romatika yang melihat setiap perjalanan hidup adalah karunia Tuhan.

Itulah pesan yang kita bisa tangkap secara simbolis, tentang kehidupan putri dan istri seorang prajurit Ani Yudhoyono.

Sebab hanya mereka yang bisa menghargai kehidupan yang bisa memaknai kematian.

Karena letak  kemanusian sesungguhnya berada pada jejak memori kehidupan dari orang-orang yang hidup. Sementara kita tidak pernah tau , bagaimana sebenarnya perjalanan dari kematian.

Lalu kitapun hanya bisa melepaskan seorang ibu negara yang selalu riang gembira, pembawa cinta dan kedamaian itu. Dengan penuh harapan, semoga ditempat istirahatnya kini, kedamaian dan cinta dari Tuhan yang Maha Kuasa selalu bersama ibu Ani.

Selamat jalan ibu, nama dan jejakmu akan selalu kami kenang. Semoga negara dan bangsa  ini, selalu damai serta ceria sepertimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s