‘Matinya Kepakaran’

‘Jangan bicara kalau tidak paham, anda tidak tau kondisi politik yang ada. Karena anda tidak paham, sebaiknya anda jangan komentar, Jokowi akan kalah di Pemilu nanti’!!!

(Percakapan Grup WhatsApp)

Saya menarik nafas agak panjang, ketika seorang kawan pada sebuah grup WhatsApp menyerang saya demikian hebat.

Kawan saya itu, seorang dokter.

Beliau tiba-tiba marah kepada saya, hanya karena tulisan dan ulasan soal hasil survei jelang pemilihan presiden beberapa bulan yang lalu.

Kalau menghadapi situasi yang demikian, langkah pertama yang biasa saya lakukan adalah diam sejenak.

Lalu dalam hati, mulai bertanya, sekaligus memeriksa apa salah saya? Jangan sampai, ada yang salah dari argumen yang saya tulis atau bicarakan.

Kebiasaan untuk bertanya, pada diri sendiri itu, selalu saya rawat untuk mencegah perasaan merasa benar sendiri.

Sesuatu yang oleh guru saya, disebut sebagai  ‘kesibukan memeriksa kedalam diri sendiri’.

Belum selesai dialog dalam diri itu berlangsung. Nalar kritis saya segera protes, bukankah yang sekolah di fakultas ilmu sosial dan politik adalah saya?

Konsentrasi skripsi, thesis, sampai disertasi saya, semua berhubungan dengan soal politik.

Lagi pula, lebih dari sepuluh tahun terakhir, hidup saya bergelut dalam sejumlah riset politik pada berbagai arena pemilu dan pilkada.

Mata kuliah yang saya ajarkan di kampus juga pengantar ilmu politik, metodologi penelitian ilmu sosial, sampai komunikasi politik.

Lalu, apakah saya tidak lebih kompeten dan paham bicara soal survei politik serta pemilu, dibandingkan ibu dokter itu?

Yang mungkin saja, lebih banyak meneliti soal penyakit menular atau soal kanker serviks yang kini sering menjadi ketakutan bagi banyak perempuan.

Beliau juga tentu lebih akrab dengan stetoskop, dibandingkan dengan saya. Yang jujur saja, sampai saat ini mesti saya akui, saya tidak mengetahui bagaimana cara alat itu bekerja.

Tapi pada soal yang lain, tentu saya lebih mengerti bagaimana metodologi survei. Cara memilah sampel dengan stratified random sampling, sampai menurukan pertanyaan teoritis soal prilaku pemilih dalam bahasa kuesioner yang mudah di pahami responden.

Dialog dalam diri itu, membuat saya kelelahan untuk berdebat.

Seperti biasa, khirnya saya memilih untuk berhenti menatapi layar handphone, lalu membuang keinginan berdebat dengan ibu dokter.

Bias Konfirmasi, Tersesat di Media Sosial

Memori saya, tentang kejadian beberapa bulan lalu itu kembali terpanggil setelah saya membaca buku, ‘Matinya Kepakaran karya Tom Nichols.

Persis seperti yang saya alami. Pada bagian awal buku, Tom menjelaskan mengapa percakapan yang melelahkan seperti kejadian yang menimpa saya itu, kini semakin sering terjadi?

Tom Nichols menyebut hal tersebut sebagai akibat ‘bias konfirmasi’. Menurut Tom, bias konfirmasi terjadi ketika kita berhadapan dengan orang-orang yang hanya ingin membenarkan apa yang sudah mereka percaya.

Mereka hanya mau menerima apa yang sudah di yakini dan menolak data yang menentang apa yang mereka percaya.

Kasus kemarahan ibu dokter kepada saya, adalah contoh pada dasarnya ibu dokter yang marah-marah itu dan menuduh saya sebagai orang yang tidak paham, sebenarnya sudah memiliki preferensi politik sendiri.

Maka, ketika saya menyajikan argumentasi berdasarkan sebuah data hasil survei yang bertentangan dengan apa yang dipercayai atau berbeda dengan preferensi politik yang diyakini, maka dengan akan mudah dia menuduh saya sebagai orang yang tidak memiliki kompetensi dan tidak paham situasi.

Kejadian kemarahan ibu dokter, pada kasus dan orang berbeda, sering pula saya hadapi. Misalnya ketika saya mempresentasikan hasil survei untuk calon kepala daerah ataupun calon anggota legislatif.

Beberapa diantara mereka yang menggunakan jasa survei lembaga kami, sering marah-marah, ketika hasil survei kami tidak menempatkan diri mereka dalam posisi baik.

Bahkan tidak jarang, kami dituduh tidak melakukan survei yang benar. Padahal ketika hari pemilu tiba, survei yang kami lakukan ternyata sesuai, dan calon itu kalah.

Barulah, sms atau pesan WhatsApp datang kepada saya;

‘Seandainya saya mendengarkan apa yang adinda sampaikan dulu’

Lalu biasanya, saya akan membalas dengan nada yang menghibur.

Ah, kanda. Nasi sudah kering jadi Nasi Aking, tidak perlu penyesalan dari hari yang berlalu.Mari melihat akan datang.

Bias konfirmasi seperti kisah ibu dokter dan para calon yang sering saya temui itu, kini semakin menjadi-jadi dengan kehadiran media sosial dan jejaring sosial.

Kawan saya yang memang pakar di bidang IT, pernah menjelaskan kepada saya soal kecenderungan algoritma.

Menurut penjelasan kawan tersebut, ketika seseorang sering membuka, melakukan like dan share isu tertentu, oleh jejaring sosial dan mesin pencari, mereka akan diarahkan dengan berbagai konten yang sesuai dengan kegemaran mereka.

Maka tidak heran, orang-orang seperti ibu dokter atau para calon tersebut akan merasa pendapat mereka selalu benar,  karena oleh algoritma jejaring sosial mereka terus tersuplai informasi akan preferensi mereka sediri.

Kondisi ini, oleh Tom Nichols disebutkan sebagai hilangnya ‘metakognisi’. Yakni kemampuan kemampuan menarik jarak, menyadari kesalahan yang mungkin kita lakukan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana dalam kasus calon pada pilkada, saya sering sebutkan sebagai halo effect.

Kebiasaan para kandidat yang merasa diri kuat dan mendapatkan dukungan politik hanya karena orang-orang sekelilingnya, terus meyakinkan dirinya akan terpilih. Lantas mengabaikan logika statistik deskriptif yang dibangun berdasarkan survei yang benar dan objektif.

Efek Dunning-Kruger dan Matinya Kepakaran

Tom Nichols dalam The Death of Expertise, juga menjelaskan fenomena ‘Efek Dunning-Kruger’.

Sebuah teori tentang bias kognitif ketika seseorang yang tidak memiliki kemampuan mengalami superioritas ilusif, artinya ia merasa kemampuannya lebih hebat daripada orang lain pada umumnya.

Orang-orang seperti ini, kata Tom Nichols sebagai orang yang tidak ‘kompeten’.

Mereka yang tidak tahu dia salah dan orang lain benar. Atau dalam bahasa saya, sering saya sebutkan sebagai ‘mental pakar dadakan’ atau ‘pengamat segala’.

Kelompok ini sering saya jumpai, seperti mungkin kisah dokter tadi.

Atau beberapa orang yang saya temui dan membuat saya terkagum-kagum karena bisa menjelaskan soal militer, hukum, sosial, sastra, politik sampai ekonomi, hanya bermodalkan pada amatan televisi atau mengandalkan mesin pencari.

Sementara saya terkadang harus menjawab jujur, saya tidak tau. Serta memilih diam pada hal-hal diluar bidang Pendidikan dan Pengalaman yang saya miliki dan geluti.

Pada akhirnya, memang semuanya, soal kemampuan untuk  tau diri. Yakni mengetahui batas kemampuan kita sendiri. Karena jika tidak, maka kita memiliki andil dalam membunuh kepakaran.

Karena itu, jangan percaya ketika saya bicara soal musik.

Mungkin saat itu, saya sedang berilusi menjadi Richard Starkey, Drummer The beatles.

Percayalah, itu hanya ilusi sok tau saya!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s