Bukan Zaman Cicero

Sekarang, bukan lagi zaman Cicero. Politisi, Filsuf dan ahli retorika dari zaman Romawi kuno yang terkenal jago pidato itu bertahta.

Tidak juga, era pemimpin kharismatik layaknya Soekarno, Mandela atau Fidel Castro.

Kini kita sedang berhadapan dengan zaman baru, ketika era kaum sophis yang ahli debat maupun mereka yang punya daya tarik kharismatik emosional, layaknya Marcos atau Soekarno tidak lagi terlalu menarik.

Eksklusifitas kepemimpinan masa lalu yang bergantung pada kemampuan orasi dan kharisma pribadi, telah berganti dengan inklusifitas, kesetaraan dan kesejajaran.

Kepemimpinan politik, kini bukan lagi diisi dengan kata-kata berbunga, tapi dengan pertunjukan kerja.

Hak-hak istimewa dalam bentuk previlage kekuasaan yang selama ini dibentuk oleh kekuasaan untuk membedakan antara penguasa dan orang biasa, pelan-pelan menjadi tidak lagi disukai bagi banyak orang.

Bahkan bisa jadi menyebalkan. Karena disana ada jarak antara penguasa dan rakyat jelata. Keturunan raja-raja masa lalu, kini juga harus belajar untuk tau diri, bahwa generasi sudah berubah begitu jauh.

Rakyat bukanlah abdi dalem, pelayan, layaknya ketika kakek moyang mereka berkuasa di istana-istana masa lalu.

Kini kesetaraan telah menjadi bagian yang begitu dekat dengan prinsip-prinsip modern, berbagai jargon ke istimewaan berdasarkan darah dan garis keturunan, pelan-pelan ditanggalkan.

Itulah alasan, mengapa Jokowi, Tri Risma, sampai Ridwan kamil, tampil menjadi idola publik dalam panggung politik. Karena mereka tidak ekslusif, orang biasa dan terpublikasi sebagai para pekerja.

Sosok pemimpin zaman baru, menjadi menarik bagi liputan media karena mereka punya inovasi dan punya kerja yang bisa dilihat. Karena itulah mereka bisa tampil menjadi media darling. Disukai media, karena bisa buat berita tentang apa yang mereka lakukan. Tampil, menjadi sorotan para netizen, karena mereka hidup layaknya orang banyak, manusiawi dan tidak tampil dalam glorifikasi.

Tokoh politik seperti Jokowi dan Ridwan kamil, sama-sama cukup mengerti bagaimana mengemas diri pada lini media sosial. Tidak heran, Presiden Jokowi masuk sebagai 5 kepala negara dengan pengikut Instagram terbanyak.

Folower Jokowi di Instagram sampai 21,2 Juta dan menjadi presiden kedua di dunia dengan pengikut terbesar, mengalahkan Donal Trump pemimpin negeri adikuasa.

Sementara itu, Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, mungkin adalah ikon dari Gubernur milenial dengan pengikut Instagram terbanyak Indonesia, mencapai 10,8 Juta orang.

Kedua tokoh publik itu, baik Presiden Jokowi maupun Ridwan Kamil sama-sama paham bagaimana kanal media populis itu bekerja menaikan daya popularitas sekaligus menjadikan apa yang mereka kerjakan dapat dilihat orang banyak.

Mereka dapat mengubah ketergantungan politisi pada media, menjadi ketergantugan media atas politisi. Momok gaya berita ala doktrin berita masa lalu, bad news is good news pelan-pelan mendapatkan perlawanan, good news is good news.

Mengapa? Karena framing tentang politisi itu bukan lagi di tangan pemilik media atau para jurnalis, tapi berada di tangan mereka dan tim mereka sendiri, lewat kanal media sosial yang dimiliki.

Kombinasi semangat kesetaaraan, inklusifitas dan kemampuan menjadi media darling sekaligus kemampuan mengemas diri di lini media sosial, adalah kunci kepemimpinan zaman baru saat ini.

Seiring dengan bandul transformasi gaya kepemimpinan politik saat ini, semestinya disambut dengan cepat oleh para pemimpin daerah atau calon pemimpin daerah pada masa yang akan datang.

Sudah tidak zaman untuk tampil, layaknya raja-raja masa lalu, jaga citra di podium atau selalu membangun jarak kuasa lewat berbagai glorifikasi.

Karena pada akhirnya, sejarah perjalanan demokrasi akan menempatkan para pemimpin politik tidak lebih dari sekedar pelayan.

Orang yang melayani kepentingan orang banyak, berbuat dan bentindak untuk kepentingan sesama warga negara. Dalam posisi yang setara, hanya dibedakan dengan jarak kewenangan yang dimiliki.

Karena Anda hidup di masa kini, bukan pada era Cicero!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s