Razia Buku

‘Saya Zul, Ketua Brigade Muslim Indonesia. Saya bersama teman-teman sedang mencari buku yang berpaham Marxisme, Komunisme dan Leninisme. Kami sudah sepakat dengan pihak Gramedia, untuk  menarik seluruh buku tersebut dan mengembalikan ke pihak percetakan’.

Demikian kira-kira pernyataan orang yang kini jadi viral itu. Saya sendiri hanya tertawa ketika mendapatkan video Razia buku itu lewat pesan berantai WhatsApp. Tertawa karena di zaman seperti sekarang, masih ada orang yang repot-repot merazia buku.

Bahkan lebih jauh, berusaha mengontorol pikiran orang.

Seperti dengan bersemangat di akhir rekaman, orang bernama Zul itu  bilang, ‘Makassar harus bebas dari paham marxisme!

Jika ada pelawak terbaik saat ini, orang ini adalah lelucon itu!

Pasalnya, apakah Zul dan teman-temanya tidak sadar bahwa kita tidak lagi hidup di zaman Johannes Gutenberg. Kini, kita hidup pada zaman Mark Zuckerberg, ketika informasi, pesan, bahkan buku begitu mudah diakses lewat gawai.

Cukup googling dengan kata kunci Marxisme, Das Kapital, sampai Manifesto Partai Komunis Karl Marx & Friedrich Engels (1848), lalu klik catatan lengkap dalam berbagai pilihan format dari Das Kapital, sampai Manifesto Partai Komunis, bisa langsung dibaca.

Pertanyaanya, masihkah razia buku itu perlu ketika kanal informasi sudah sedemikian banyaknya seperti sekarang ?

Lagi pula, sebenarnya Zul dan kawan-kawanya tidak perlu repot ke Gramedia untuk merazia buku.

Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Indonesia persis berada di bawah Thailand  yang peringkat 59 dan hanya di atas dari negara nun jauh di pedalaman Afrika Selatan yakni Republik Botswana yang tepat  satu tingkat di bawah rengking Indonesia.

Apalagi minat baca untuk buku-buku teks pemikiran, seperti buku marxis?

Secara pasar, buku-buku sejenis itu kurang laku di pasaran. Karena pembaca Indonesia 75 % lebih tertarik pada buku fiksi.

Selain buku fiksi, pasar buku di dalam negeri yang juga di dominasi oleh buku motivasi yang isinya mengajarkan siasat hidup bahagia dalam era kapitalisme hedonis, menjadi kaya,secara instan, atau trik filantropis yang kelihatan sosialis. Serta satu lagi, buku strategi menjawab soal Tes CPNS yang selalu laris manis.

Menurut saya, inilah alasan mengapa pihak Gramedia yang digrebek oleh Zul dan kawan-kawan langsung sepakat mengembalikan buku-buku itu ke percetakan karena toh buku-buku itu juga tidak laku dan kurang peminat.

Terlepas dari kelucuan Zul dan teman-teman, sebenarnya ada kecemasan yang cukup penting yang perlu disikapi dengan sedikit serius oleh kita semua. Yakni, kegagalan literasi dan menyebarnya budaya intoleransi pemikiran.

Saya yakin, jika Zul dan teman-teman rajin membaca, pasti akan malu pada Soekarno. Pasalnya, sejak tahun 1926 sebelum Indonesia merdeka, proklamator bangsa ini, Soekarno sudah menulis tentang orang-orang seperti Zul yang suka mempertentangkan antara Marxisme dan Islam.

Tanpa paham apa titik temu Marxisme dan Islam itu sendiri. Dalam catatanya di Suluh Indonesia Muda yang terbit pada tahun 1926 dan kemudian menjadi catatan awal dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi yang berjudul ‘Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme’. Soekarno menulis; Islam yang memerangi marxisme adalah islam yang tidak kenal akan larangan-larangan agama sendiri. Islam yang demikian tidak mengetahui Islam sejati melarang penumpukan uang secara kapitalis, tidak paham kewajiban membagi rezeki seperti zakat yang dikehendaki pula Marxisme, anasir-anasir pri kemanusiaan, persamaan dan persaudaraan adalah titik temu Islam dan Marxisme (Dibawah Bendera Revolusi ; 1964; 13)

Hampir seabad yang lalu, Soekarno sudah menentang orang-orang dengan pikiran purba seperti Zul dan teman-temannya. Ternyata sampai saat ini di tahun 2019, masih ada juga orang yang sibuk ingin merazia pikiran-pikiran lampau yang bisa jadi sebenarnya tidak lagi punya daya pikat dan telah lama mati, lalu Zul dan teman-teman masih ingin membunuhnya lagi?

Saya sendiri bukanlah seorang yang mengagumi Komunisme apalagi Leninisme, tapi saya menolak razia buku dan perilaku intoleransi atas kebebasan berpikir. Karena orang-orang seperti ini adalah manusia purba yang tidak mengenal aksara. Takut pada hantu yang sebenarnya tidak lagi ada.

Sehat jaki ?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s