PSM, Ewakoo…

Goll…Goll…Goll…

Bilang memang Ja’, Ewakoo PSM, Watunnami.

Teriakan-teriakan itu pecah, ketika pada babak kedua menit ke-50 Zulham Zamrun, berhasil menaklukan kiper Persija Andritany.

Skor 2-0 untuk PSM.

Saya bersama istri dan beberapa teman lain tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak, larut bersama kegembiraan penonton lain di salah satu kafe di Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Makassar.

‘Bang, Rasanya sudah lama tidak melihat Kota Makassar merah seperti ini. Bukan hanya di Stadion Andi Mattalatta yang berkapasitas 15 ribu orang yang meluber, jalanan di sekitar Lapangan Karebosi, sampai fly over juga penuh manusia’, terang Marie salah satu kawan saya yang ikut berdesakan di Lapangan Andi Matalata ketika jam 9 malam melaporkan hasil pandangan matanya ke rumah.

“Memang PSM sudah lama puasa gelar juara, 19 tahun supporter setia laskar pasukan ramang tidak berpesta. Wajar kali ini, kalau kota ini berpesta” balas saya menyemangati Marie yang begitu kegirangan.

Sejak zaman saya kuliah, saya selalu terkagum-kagum pada militansi supporter sepak bola PSM. Ketika sedang berada di jalanan dan PSM akan bertanding ribuan motor dengan bendera The Maczman, Red Gank, Laskar Ayam Jantan (LAJ) dan sejumlah ikatan supporter lain akan memenuhi jalanan kota.

Macet, penuh teriakan, dan anda harus mengerti untuk segera menepi.

Itu hal biasa di jalanan Kota Makassar.

Hal yang sama, sering pula saya saksikan di beberapa kota di Indonesia yang punya klub sepak bola fanatik, seperti Persija, Persib atau Bajul Ijo Persebaya.

Para supporter bola memang punya militansinya sendiri. Tidak peduli anak-anak, orang tua, laki-laki, dan perempuan. Juga tidak penting anda kaya atau miskin.

Saya teringat kalimat Ror Wolf yang dituliskan Andi bachtiar Yusuf dalam pengantar buku Drama Sepak Bola,  “Football is not a continuation of life, rather life is continuation of football’.

Ada benarnya saya pikir, jika melihat militansi para supporter itu.  Sepak bola memang bukanlah kelanjutan hidup, melainkan kehidupan adalah kelanjutan dari sepak bola.

Saya meyakini pendapat ini karena mungkin saya tidak akan mengenal negara dan wajah orang-orang dari Pantai Gading, Sanegal, sampai Peru jika mereka tidak ikut berlaga di Piala Dunia.

Lewat sepak bola akhirnya saya bisa mengenal mereka.

Seperti kata istri saya, ”Sejarah setiap kota, negara, bukan hanya ditentukan oleh penaklukan lewat perang atau cerita para tiran, tidak juga hanya karena kemajuan industri dan ekonomi mereka, namun sejarah itu juga dikenang dan dituliskan oleh klub sepak bola mereka”.

Diantara milyaran warga dunia, saya percaya sepak bola adalah olahraga yang paling banyak punya penggemar. Bahkan, kata teman saya yang pernah kuliah di Inggris, sepak bola di negera sang ratu telah menjadi agama baru dan para pemain sepak bola serupa nabi-nabi baru.

Saking popularnya, kini sepak bola bukan lagi sekedar menjadi sebuah olahraga, tapi menjadi agama, industri, sampai ajang perjudian yang paling ramai.

Saya berpikir, andaikan para Walikota, Bupati, Gubernur, Menteri sampai Presiden benar-benar serius untuk membenahi klub sepak bola kita dari tingkatan daerah sampai nasional, mereka tidak perlu kerepotan untuk menyiapkan anggaran promosi daerah sampai nasional ke seluruh dunia.

Cukup lewat klub sepak bola dan para pemain, berbagai misi bisa dibawa dari misi dagang sampai misi diplomatik bisa dipromosikan lewat klub sepak bola.

Karena toh, sepak bola memang adalah olahraga yang punya milyaran umat.

Namun dengan satu syarat, bukan menjadikan klub sepak bola sebagai komoditas elit politik semata yang hanya ingin mencari suara dari massa sepak bola.

Yang terpenting adalah menjadikan oleh raga sepak bola tetaplah sepak bola, penuh drama, kegembiraan, juga air mata.

Seperti kemenangan PSM kemarin yang membuat saya dan istri, juga jutaan warga Kota Makassar, dan Sulsel menangis, tertawa, berteriak, dan percaya diri.

Ewakooo PSM,  Siri’ Na Pacce Makassar  tidak akan pernah hilang dan PSM kembali membangkitkan itu…

Selamat berpesta!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s