Manusia adalah Koentji!

Bisa tolong pesankan Grab atau Gojek ?

‘Coba-coba… siapa yang tau cara pakai aplikasi itu’.

Saya terdiam heran, saya sedang berhadapan dengan seorang komisaris salah satu BUMN yang sedang panik, karena supir pribadi si Bos hendak pulang menjemput anak.

Sementara bapak komisaris masih ingin nongkrong di salah satu kedai kopi bersama saya. Padahal, malam sudah mulai agak larut.

Pertanyaan dalam hati saya sederhana, apakah saking mewah hidup seorang komisaris BUMN seperti kawan saya itu, sampai tidak paham  menggunakan aplikasi sejuta umat itu ?

Ataukah, memang  si Bos gaptek?

Saya memilih prasangka baik, mungkin bapak komisaris tidak biasa pakai aplikasi.

Gaya hidupnya terlalu berkelas, hingga tidak pernah menggunakan aplikasi wajib yang mesti ada di handphone rakyat jelata seperti kami-kami ini.

Padahal, beberapa menit sebelum kepanikan itu bapak komisaris baru saja menceramahi saya soal gagasan pengembangan teknologi dan bisnis masa depan.

Manusia adalah Koentji!

Kejadian itu, membawa saya pada renungan panjang soal visi Presiden Jokowi priode kedua. Tentang fokus pembangunan sumberdaya manusia indonesia dalam era disrupsi teknologi yang kini sedang kita jalani.

Dalam hati saya, muncul pertanyaan kritis. Mungkinkah hal itu dicapai dengan kualitas SDM yang tergagap-gagap layaknya komisaris plat merah kawan saya itu?

Saya setuju dengan visi indonesia yang disampaikan oleh presiden Jokowi yang pada priode kedua akan berfokus pada pengembangan sumberdaya manusia.

Setelah priode pertama, fokus pada infrastruktur yang kini sedikit banyak telah mulai kita rasakan.Karena pembangunan sumberdaya manusia, memang adalah pekerjaan besar yang kini dihadapi oleh negara ini.

Mari lihat, struktur angkatan kerja indonesia pada tahun 2019 dari sejumlah data masih didominasi lulusan SD (40,51 persen).

Rata-rata lama sekolah penduduk negeri ini secara nasional masih 8,17, artinya mayoritas penduduk kita bersekolah 8 tahun lebih di sekolah formal atau setara dengan kelas 3 SMP.

Jangan tanyakan jumlah peneliti, dari sejumlah data yang ada Jumlah peneliti hanya 90 orang diantara satu juta penduduk. Dana untuk riset kurang dari 0,1 persen dari PDB.

Apa kabar universitas ?

Hanya lima universitas di indonesia yang  masuk daftar 1.000 peringkat terbaik dunia. Modal sosial atau Human Capital Index negara ini masih peringkat ke-87 dari 157 negara yang dirilis Bank Dunia tahun 2018.

Dengan segala ketertinggalan itu, pembenahan sumberdaya manusia dan Angkatan kerja negara ini memang harus jadi prioritas utama pemerintahan Jokowi priode kedua.

Layaknya cita-cita kemerdekaan, ‘bangunlah jiwanya bangunlah badannya’.

Tiga Koentji

Lantas kita mulai dari mana ? Menurut hemat saya, ada tiga kunci dalam membenahi sumberdaya manusia kita. Pertama, dimulai dari kesiapan sumberdaya pengajar itu sendiri. Dari bapak/ibu guru dan dosen kita.

Kesiapan sumberdaya manusia para pengajar ini memainkan peran penting untuk menaikkan dan membenahi kualitas SDM kita, para guru dan dosen adalah ujung tombak masa depan Pendidikan Indonesia.

Karena itu, kapasitas guru dan dosen kita memang harus lebih baik. Cirinya terletak pada dua hal yakni kemampuan adaptasi dan update akan sumber informasi akan pengetahuan baru. Karena kini, akses akan sumber informasi dan pengetahuan begitu luas, banyak, dan tanpa batas.

Berbagai pelatihan teknis soal akses akan sumber informasi yang berkualitas dan terbarukan, mesti lebih sering dilakukan bagi bapak/ibu guru serta dosen-dosen kita, utamanya di provinsi dan kabupaten yang masih tertinggal.

Selanjutnya, bapak/ibu guru dan dosen kita harus tetap ingat  akan peran mereka bukan sekedar pengajar tapi sebagai pendidik. Mereka punya tangung jawab untuk menginspirasi anak murid untuk mengembangkan dan memacu berkembangnya penalaran serta karakter peserta didik.

Kedua, pembenahan sistem manajemen sekolah dan kampus yang harus lebih fleksibel. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah dan kampus kita. Seharusnya kampus dan sekolah mulai mengadopsi bagaimana industri baru seperti seperti google mendesain  kantor mereka layaknya sebuah kampus.

Sementara masih banyak kampus, sekolah dan civitas kampus kita, masih berwajah kantor dan orang-orang industri masa lalu yang kaku, tidak fleksibel dengan kondisi zaman baru.

Ketiga, pengembangan tradisi riset dan inovasi yang memadukan teori dan pengalaman.Menghadirkan kecintaan akan dunia penelitian dalam berbagai bidang keahlian adalah mutlak di perlukan untuk memacu produktivitas sumber daya manusia indonesia.

Tentu, bukan sekedar penelitian yang hanya berorentasi pada sains terapan namun juga pada pengembangan bagi studi ilmu humaniora juga diperlukan. Budaya riset ini perlu menjadi tradisi sejak Pendidikan dasar sampai Universitas.

Karena dari  budaya riset,  inovasi baru bisa lahir, produktivitas dan kedalaman ditemukan. Mimpi Indonesia sebagai negara ‘pencipta’ bisa kita wujudkan dan kita tidak lagi sekedar menjadi negara konsumen atau followers, tapi negara penentu masa depan dunia.

Selamat hari kemerdekaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s