“Joker dan Komedi dunia Kita”

“Hidup sejatinya adalah permainan peran. Seperti kisah malaikat dan setan, Pandawa dan Kurawa, Batman ataupun Joker. Karena kita semua hanyalah lakon dari sang dalang”

Dua jam lebih, mata saya susah untuk berkedip. Terpukau dengan adegan demi adegan dari film yang khusus membahas tokoh antagonis kesukaan saya, siapa lagi kalau bukan Joker.

Untuk pertama kali, saya melihat Joker bukan sekedar menjadi sosok pelengkap untuk  mengokohkan cerita kepahlawanan Batman atau Bruce Wayne.

Kali ini, DC Films khusus mengangkat cerita tentang sosok Joker secara mendetail. Lebih lengkap dari kisah ‘The Killing Joker’ atau dalam  film Batman sebelumnya, ‘The Dark Knight’.

Bagi para penonton yang menantikan aksi heboh perkelahian Batman dengan mobil super cangih, berhadapan dengan Joker si badut gila yang gemar melakukan kekacauan dan teror, percayalah anda tidak akan menemukan satupun adegan keseruan pertarungan itu dalam film ini.

Saya dan mungkin juga anda, justru diantar pada latar yang sunyi. Larut dalam kisah personal tentang kehidupan orang-orang yang terbuang, Arthur Fleck, Penny Fleck, Sophie Dumond, Randall dan mereka yang hidup dibawah kecemasan sebuah kota yang gagal.

Tapi lewat film ini, para pencinta Batman ataupun Joker, akan dibuat mengerti jalinan cerita hubungan personal antara Joker dan Batman. Yang terbangun oleh sosok Penny Fleck,  ibu Arthur yang ternyata pernah bekerja sebagai pelayan di rumah Thomas Wayne dan sangat terobsesi dengan ayah pahlawan kota Gotham itu.

Melalui Penny pula, saya dan mungkin juga banyak penonton lain, baru paham bagaimana Arthur Fleck bertarnsformasi menjadi seorang Joker. Pemilihan aktor Joaquin Phoenix untuk memerankan Joker kali ini,  adalah pilihan yang terasa pas, sesuai dengan  karakter yang ingin dibangun akan latar belakang Joker yang tidak banyak diketahui.

Karena Berbeda dengan Joker yang selama ini saya dan mungkin banyak orang kenali, sebagai sosok gila dan selalu bergaya kanak-kanak, mencintai kehebohan dan narsisme, layaknya akting Casar Romero di film batman the movie. Joker yang di perankan Joaquin Phoenix adalah cerita tentang kemurungan, kesepian  kehilangan dan perasaan terasing.

Lewat Fim Joker kali ini, satu pertanyaan yang sudah lama di kepala saya, soal mengapa Joker begitu sering tertawa? Akhirnya terjawab, ternyata Artur menderita penyakit tawa patologis yang merupakan efek dari masalah ganguan mental yang membuat seseorang bisa tertawa atau menangis tak terkendali.

Joker dan Komedi dunia kita

Rasa lelah saya,  mengajar dua kelas filsafat langsung terbayar seusai menonton film ini. Cerita Joker, membawa saya pada renungan dan rekaman panjang dari pelajaran-pelajaran bersama sang guru.

Pelajaran tentang peran, lakon, dan dalang yang pada akhirnya mengubah banyak cara saya memandang orang dan peristiwa kehidupan. Temasuk membaca Film Joker kali ini.

Saya percaya, film merupakan refleksi akan realitas yang dibangun oleh seorang sutradara. Layaknya kisah Joker, tentu tidak lepas dari refleksi dari kacamata Todd Phillips sebagai sutradara dalam melihat realitas dunia.

Lalu sebagai penonton, kita sudah pasti punya kacamata baca sendiri-sendiri dalam memaknai dan menafsir sebuah film. Jika menggunakan kacamata ala Karl Marx,  untuk membaca  kisah Arthur atauJoker, Penny Fleck, Sophie Dumond, Randall dan para badut-badut kota itu, kita akan membaca mereka adalah kelompok proletar yang mengalami alienasi dari kehidupan sosial.

Kemarah Joker dan kawan-kawan, adalah potret kemarahan rakyat akan kesenjangan antara lingkaran kemewahan yang diwakili Thomas Wayne dan lingkaran kemiskinan kota yang berputar dalam kehidupan Arthur.

Kalaupun  menggunakan kacamata Anarkhisme layaknya Errico Malatesta  sebagai kacamata baca untuk melihat film ini, tentu kita akan dibuat percaya bahwa Joker adalah sosok pejuang yang berusaha membebaskan manusia dari sistim yang menindas.

Aksi-aksi Joker akan terbaca sebagai upaya melahirkan tatanan dunia baru, tanpa hirarki. Sekalipun dengan cara-cara kekerasan membakar kota dan menghabisi nyawa orang-orang kaya.

Namun saya lebih tertarik menggunakan kacamata baca determinsme, untuk melihat Joker layaknya pelajaran guru saya. “Bahwa dalam hidup kita senantiasa menghadapi keharusan yang tak terelakkan”.

Seperti kisah Joker yang sebenarnya tidak berniat membunuh tiga karyawan  Wayne Enterprises di kereta, pistol yang diberikan Randall (Glenn Fleshler) atau ketika pada akhirnya harus menghabisi Murray Franklin idolanya sendiri.

Joker tidak pernah ingin melakukan kekerasan itu, namun takdir, peran dan lakon mengantar diri Arthur Fleck menjadi seorang Joker. Seperti juga peran setan dan kurawa yang punya lakon antagonis dalam kehidupan kita.

Karena setiap orang pasti punya impian untuk memainkan peran sebagai sosok yang baik, ibarat Bruce Wayne yang ganteng, kaya dan jadi pahlawan. Namun tidak semua orang beruntung mendapatkan peran kebaikan itu, karena hidup memang adalah komedi satir yang menyedihkan.

Tapi terlepas dari segala ragam sudut pandang itu, Joaquin Phoenix menurut saya berhasil memerankan kisah Joker.

Selamat menonton..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s