Surat Untuk Bro Menteri Nadiem

Jujur, saya agak bingung mau menyapa Saudara Menteri dengan panggilan apa? Pak, Mas, Uda, Antum, atau Bro. Kalau saya memanggil Bapak Menteri Nadiem Makarim rasanya terlalu formal, sementara umur kita sama. 

Sebagai pria umur 35 yang masih dalam ketegori papa muda, saya agak alergi dipanggil ‘Pak’, karena terkesan terlalu tua. Kalaupun saya panggil Sampeyan Mas, sangat Jawa. 

Sementara dari profil Saudara Menteri yang saya baca, Ayah dan ibu Uda, berdarah Minang dan Arab. Jadi, saya mohon izin, saya menyapa antum cukup Bro Menteri. 

Bro, panggilan akrab generasi kita. Walau, semoga saya tidak sedang sok akrab dan saya juga tidak hendak bermaksud mengategorikan Uda, dengan gimmick ala-ala Partai Bro dan Sis yang suka sensasi itu.

Jadi begini Bro, izinkan saya menyampaikan beberapa pandangan saya tentu saja soal Kementerian yang Bro kini jadi Boss. Eh salah, jadi pimpinan.

Pertama, sebagai anak guru yang kini juga jadi dosen dan juga ayah yang punya anak masih sekolah, Saya setuju, keputusan Bapak Presiden Jokowi menunjuk Bro, Menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru.

Apalagi, kali ini tugas Kemendikbud juga begitu besar karena mengelola Pendidikan dari Pendidikan usia dini, sampai Pendidikan tinggi. Sebuah tugas yang tentu maha berat. 

Jumlah sekolah di negeri ini dari data yang ada sampai 307.655 sekolah dari SD sampai SMA, belum lagi universitas sampai 4.504. Saya yakin butuh energi besar untuk mengelola sumberdaya sebesar itu. Karena ini bukan saja soal aplikasi, tapi soal implikasi bagi generasi yang akan datang.

Peran sekolah, kampus, sebagai rumah kedua mendidik dan mengajar generasi itu memang tidak main-main. Apalagi untuk konteks Indonesia yang begitu luas, akses antar wilayah dan teknologi yang tidak sama, sumberdaya manusia guru dan kepala sekolah yang begitu beragam, tentu bukan hal yang mudah untuk menata semua untuk menjadikan setara, layaknya keinginan Bapak Presiden. 

Namun dengan segala kesulitan itu. Saya percaya Bro Nadiem bisa melakukan perubahan. Karena sebagai generasi millennial yang juga merupakan generasi transisi, kita terbiasa menjadi jembatan antar generasi.

Kita adalah generasi yang pernah merasakan romantisme pendidikan ala generasi old yang mendidik dengan cara manual dengan mistar dan kayu di tangan. Lengkap dengan jargon ‘Guru selalu benar’ dan berdebat dengan guru adalah dosa. Pada sisi lain, kita cukup mengerti bagaimana perkembangan teknologi baru mempengaruhi kehidupan personal, bahkan cara kita belajar dan bekerja. 

Mengapa menjadi jembatan antargenerasi ini perlu saya tekankan? Karena sejumlah data menyebutkan memang usia guru di SD, SMP, dan SMA mayoritas seusia kita 30-39 tahun. Namun para kepala sekolah yang menjadi pemimpin organisasi di sekolah-sekolah sampai kampus kita,rata-rata berusia 50 tahun bahkan di atas 60 tahun.

Perbedaan generasi antara mereka yang mengelola managemen sekolah dan kampus dengan mereka yang menjadi pengajar, apalagi dengan mereka yang sedang belajar dengan usia yang begitu jauh ini, terkadang memang menjadi persoalan. Contohnya, sebahagian generasi old masih banyak yang berpandangan guru adalah sumber segala pengetahuan, sementara bagi kita generasi milenial, guru adalah sekedar fasilitator dan mungkin bagi generasi Z dan Alfa, guru tidak lebih dari orang yang memberikan keyword.

Perbedaan ini tentu butuh jembatan. Saya yakin Bro Menteri sebagai wakil generasi millennial bisa mengubah dan mengajak para pengelola Pendidikan kita untuk bisa bertransformasi dengan logika zaman baru ini dalam mengelola sekolah dan institusi Pendidikan kita. 

Kedua, sebagai  anak guru. Saya setuju ada beberapa hal yang tidak bisa hilang dari romantisme gaya pendidikan kita di masa lalu. Sesuatu yang tidak bisa diwakilkan oleh kemajuan aplikasi atau dunia artificial intelligence.

Saya selalu ingat pesan ayah saya, seorang guru bukan sekedar tukang mengajar. Tapi seorang guru adalah pemberi teladan, penebar kasih sayang, sekaligus sumber inspirasi bagi anak-anak didik dan masyarakat.  Seperti nilai Pendidikan yang telah ditanamkan oleh  Ki Hajar Dewantoro; Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani yang berarti ; di depan memberi teladan, di tengah membimbing (memotivasi, memberi semangat, menciptakan situasi kondusif) dan di belakang mendorong (dukungan moral).

Karena itulah esensi pendidikan nasional kita bukan sekedar menciptakan orang-orang berpengetahuan namun lebih dari itu, guru, sekolah, dan kampus adalah tempat pendidikan dan pengajaran  keteladanan serta kasih sayang. 

Bukan sekedar tempat tujuan GoSend atau Delivered pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s