Ahok Lagi?

Menyebut nama Ahok, pasti selalu bikin heboh. Padahal sudah ganti nama jadi Basuki Tjahaja Purnama (BTP). Daya tarik dan daya tolak akan diri Ahok, selalu besar. Bahkan menurut saya, daya tolak yang dimiliki terlalu besar sampai membuat jutaan orang datang ke monas hanya untuk menggugat satu orang, Ahok.
Kini, jagat media dan  twitterland kembali heboh soal  BTP yang akan masuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Padahal, BUMN di negeri ini sekitar 115 perusahaan, belum lagi anak-anak perusahaan yang dimiliki.
Siapa saja direktur BUMN ? Apa saja nama perusahaan BUMN di indonesia? Saya yakin hanya sedikit yang tau.
Paling-paling yang dikenal publik Menteri BUMN yang baru, Erick Thohir. Itupun karena dua hal, pertama karena pernah jadi bos klub sepak bola inter milan. Kedua, karena menjadi ketua tim pemenangan Jokowi-Maruf Amin, pada pemilihan umum Presiden yang kemarin.
Begitu pula soal Badan Usaha Milik Negara, paling umum yang diketahui oleh publik hanya BUMN besar seperti Pertamina, Garuda, PLN ataupun Telkom yang memang bersentuhan langsung dengan orang banyak.
Lantas mengapa hanya karena ingin masuk BUMN, entah jadi direktur, komisaris atau apapun yang belum kita ketahui, gelombang penolakan dan dukungan untuk Ahok begitu besar? Bahkan hampir semua framing berita mulai mengarah kembali pada diri BTP yang akan masuk BUMN?
Saya yakin, tidak pernah ada pembahasan calon pimpinan BUMN yang begitu heboh seperti ketika Ahok sekarang. Menurut saya ada dua hal dibalik kehebohan soal Ahok yang ramai diberitakan akan ditunjuk menjadi pimpinan BUMN.
Pertama, suka ataupun tidak, Ahok sudah terlanjur menjadi media darling. Apapun yang dilakukan Ahok, pasti akan heboh. Ketika Ahok bercerai dengan Veronica Tan, media juga sibuk memberitakan. 
Bahkan, ketika Ahok akhirnya menikah dengan Puput Nastiti Devi, Polwan cantik mantan ajudan Veronica itu, berbagai berita juga ramai mencari tau latar belakang Puput.
Ahok dalam bahasa Jurnalis, punya  apa yang disebut sebagai News value sama seperti mengapa Joko Widodo yang hanya Walikota Solo, begitu cepat melejit dijagat politik indonesia.
“Ya, Karena  punya nilai berita”.
Sesuatu yang harus ada pada seorang tokoh publik, apalagi untuk jadi seorang politisi. Mereka harus pandai memainkan nilai berita yang bisa dibentuk dari keunikan setiap orang, kekhasan yang dimiliki, juga kemampuan membentuk kontroversi.
Jika Jokowi punya keunikan kesedehanaan, blusukan dan tampang Ndeso. Sementara Ahok punya frame, berani, jujur, pekerja keras dan cenderung kasar, dan berwajah ‘tionghoa yang minoritas’ (maaf saya sulit menemukan padanan kata yang terakhir,).
Sesuatu yang menjadi nilai berita bagi Ahok yang sekaligus menjebak dirinya sendiri dan melahirkan gelombang penolakan yang begitu besar dan menjadikan Ahok bagi sebahagian orang, layaknya Voldemort di Harry Potter. 
Kedua, mengapa daya tolak dan terima Ahok begitu besar? Bagi saya, karena Ahok adalah ikon yang berani mengangkat perbincangan yang selama ini cenderung tabu di negeri ini ke arena publik. 
Membincangkan persinggungan soal agama, sentiment etnis, itu sesuatu yang serupa api dalam sekam di negeri ini. Sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh mata, rasionalitas, namun tersimpan rapi dalam sisi emosional sebahagian orang yang menolak Ahok.
Sementara bagi mereka yang mendukung Ahok, itu adalah jalan untuk membuka kejujuran tentang keragaman yang dimiliki oleh indonesia. Ahok adalah ikon dari upaya membuka kesetaraan posisi sebagai sesama warga negara dan bangsa. Karena ahok adalah simbol bagi perlawanan atas tirani identitas mayoritas. 
Kedua kelompok inilah yang terus saling bertarung, berdebat dan membentuk dua poros penolakan dan penerimaan tentang Ahok, sesuatu yang pasti menarik bagi media dan selalu disukai oleh para nitizen.
Namun, terlepas dari dua hal dibalik kehebohan tersebut, ada satu pertanyaan yang tersimpan di kepala saya. Pertanyaan yang bisa jadi juga muncul di benak kalangan kaum garis tengah seperti saya.
Mengapa mesti Ahok Lagi ?
Bukankah BUMN itu adalah Badan Usaha Negara yang bertujuan mengumpulkan laba untuk kas negara. Apakah Ahok, adalah seorang yang punya prestasi besar dalam latar belakang bisnis?
Apakah pemerintah ini serius ingin mengumpulkan kas negara atau ingin bermain kontroversi politik lagi ? Yang  pada akhirnya membuka babak baru kerepotan dan ketegangan politik, bahkan pembelahan sosial. Sesuatu yang justru tidak produktif menurut saya.  

Lantas, kapan indonesia maju?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s