Jokowi, Harari, Rizal Mallarangeng dan Politik Kita ?

Saya suka dengan pikiran-pikiran Rizal Mallarangeng, walau kadang-kadang saya tidak sepakat dengan beberapa bagian gagasan Rizal menyangkut ide liberalisme politik untuk indonesia.

Menurut saya, Rizal dan banyak intelektual lulusan luar negeri, terkadang abai melihat politik indonesia dalam cara pandang kebudayaan indonesia. Politik indonesia, sesungguhnya tidak berdiri diatas bangunan budaya masyarakat rasional layaknya teori Anthony downs.

Juga tidak hadir dari warga yang percaya doktrin kebebasan dan kesetaraan layaknya sudut pandang liberalisme. Politik indonesia, berdiri diatas relasi hubungan patron klien, eufemisme, kepura-puraan serta mistisisme. Sebuah realitas yang jauh berbeda dengan cara pandang Rizal Mallarangeng dan kaum American sentries.

Namun, perbedaan itu tidak menafikan pujian saya bahwa buku Rizal Mallarangeng atau sering disapa bang Celi yang berjudul dari ‘Jokowi ke Harari’ merupakan kumpulan esai politik yang harus saya akui, merupakan salah satu bacaan keren awal tahun 2020.

Kemampuan Rizal Mallarangeng, membangun tautan simbolik antara sosok Jokowi dan gagasan penulis besar Yuval Noah Harari adalah suplemen bergizi yang mesti dibaca oleh banyak kalangan, sebagai alat bantu mencerna
pergeseran politik zaman kontemporer.

Jokowi dan Noah Harari

Lantas, apa tautan hubungan Jokowi dan Noah Harari yang terekam dalam karya Rizal Mallarangeng?

Saya coba membacan dalam dua sudut pandang simbolik, yakni ; ‘sejarah politik dan pemahaman evolusi masyarakat kontemporer.

Harari kini memang jadi sejarawan yang paling bersinar terang di dunia, lewat karyanya Homo Deus dan Sapiens, kedua buku itu laku dijual jutaan kopi bahkan kini diterjemahkan sampai 20 bahasa.

Seperti ulasan bang Celi yang saya setujui, “kekuatan Harari pada kemampuan Profesor muda yang masih berusia 39 tahun itu, dalam bercerita dan meramu bentang sejarah yang panjang dan memerasnya dengan kreatif”.

Tapi hal yang paling utama menurut saya, ada pada kekuatan prespektif sejarah yang dihadirkan oleh Noah Harari. Yakni, ‘kemampuan Harari untuk lepas dari cerita tentang tokoh dan peristiwa’.

Harari sebagai sejarawan memang tidak bicara tentang Julius cesar, Napoleon atau kisah dan nama besar orang-orang dari masa lalu. Harari, justru bercerita secara kreatif tentang perjalanan spesies manusia sejak 70.000 tahun silam.

Menurut hemat saya, inilah tautan pertama antara Noah Harari dan Jokowi yang ingin dibangun oleh Rizal Mallarangeng. Jokowi seperti yang diketahui secara luas oleh publik, adalah lambang dari Presiden yang lepas dari sejarah orang-orang besar masa lalu.

Jokowi adalah sosok presiden  yang terbebas dari sejarah orde lama maupun orde baru. Berbeda dengan sejarah kehidupan sejumlah presiden dan tokoh-tokoh politik lain yang punya tautan sejarah langsung pada orde lama maupun orde baru.

Kedua, pemahaman tentang proses evolusi sapiens menuju Homo Deus. Seperti kata Rizal yang menggutip Harari, ‘bahwa konsep homo deus merupakan penjelasan akan ketergantungan manusia akan sejumlah percabangan ilmu baru khususnya ilmu komputer dan biologi’.

Perkembangan Big Data, algoritma yang semakin hari semakin canggih dan mampu membaca bahkan meniru cara berpikir kita sebagai manusia, merupakan tahapan lanjutan dari pencapaian rovolusi petanian dan industry.

Proses evolusi ini, pada akhirnya menurut ramalan Harari akan menyebabkan bergabungnya ‘data, komputer dan otak manusia dalam sistim kognitif yang sama’. Sesuatu yang menurut saya hari-hari ini, semakin kita rasakan peran dan kehadirannya pada masing-masing diri kita.

Berapa banyak keputusan yang kita ambil berdasarkan rekomendasi aplikasi di smartphone yang kita miliki, mulai dari makan apa hari ini? Belanja? Tempat hangout? Sampai pada kecenderungan keputusan politik yang kita ambil sebenarnya sangat ditentukan oleh preferensi informasi yang kita dapatkan dari jejaring pertemanan Facebook, Instagram, WhatsApp yang menerpa kita yang dibaca oleh kecenderungan aktivitas algoritma handphone yang kita miliki.

Lewat simplifikasi yang sempurna dari buku Jokowi ke Harari, Rizal Mallarangeng sebenarnya ingin berkata ‘kemenangan Jokowi pada dua kali pemilu juga ditopang dari kemampuan Jokowi dan tim dalam membaca evolusi masyarakat  homo deus yang kini terjadi’.

Tapi, Rizal Mallarangeng dan mungkin juga Harari tetap saja abai, tentang kecenderungan sapiens untuk tetap saja punya kecenderungan mencintai kerumunan, kelompok dan identitas  mereka sendiri. Karena, Joko Widodo tetaplah seorang Jawa!

Satu tanggapan untuk “Jokowi, Harari, Rizal Mallarangeng dan Politik Kita ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s